Latest News

Showing posts with label Analisis Politik. Show all posts
Showing posts with label Analisis Politik. Show all posts

Wednesday, 1 July 2020

Devide et impera dibalik demo HIP


Oleh: erros djarot
Mengkritisi Rencana Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) setajam apa pun,B un pada hakekatnya tidak ada masalah. Menjadi masalah ketika polemik seputar RUU HIP dijadikan sebagai pintu masuk untuk menggelar gerakan politik, oleh kelompok politik tertentu, untuk kepentingan politik tertentu pula.

Sebagai langkah awal,  desain politik labelisasi PDIP sebagai tempat pengembangan faham komunisme, digulirkan. Disusul dengan tuntutan bahwa PDIP layak  dibubarkan karena dicitrakan sebagai partai yang berpotensi menghidupkan kembali faham komunisme. PDIP adalah ‘PKI gaya baru’ pun disebar menjadi isu premier gerakan politik mereka.

Secara kebetulan, saya ikut mempersiapkan  AD/ART saat PDI menjelma menjadi PDIP. Juga saat merumuskan garis-garis besar haluan perjuangan PDIP sebagai kendaraan politik perjuangan rakyat (wong cilik). Atas labelisasi PDIP pro komunisme dan bahkan neo PKI, membuat saya geleng-geleng kepala dan bertanya; di mana Komunisme-nya ?
Maka jelas, upaya memainkan politik devide et impera dengan tujuan memecah belah rakyat ini, mengharap tergiringnya massa rakyat ke arena konflik horisontal yang sangat berbahaya.

Padahal kisruh RUU HIP ini bisa jadi timbulnya, hanya karena adanya kesoktahuan beberapa individu fungsionaris partai yang merasa ahli Pancasila, tapi  melakukan blunder saat merumuskan pemahamannya terhadap Pancasila ke dalam bentuk Rencana Undang-Undang HIP.
Tidak ada kaitannya dengan upaya menghidupkan kembali PKI, mensekulerkan negara Indonesia, dan apalagi mengganti Pancasila dengan Ekasila, dsb.

Di sisi lain, bila ada oknum yang terindikasi atau diduga keras berafiliasi dengan faham terlarang; dan individu tersebut terlibat dalam proses penyusunan RUU HIP yang menghebohkan, silahkan persoalkan individu dimaksud. Jangan kalau ada tikus di lumbung, untuk menangkap sang tikus lumbungnya yang dibakar !
Kita semua tentunya tau bahwa PDIP sebagai partai, bukan dimiliki oleh oknum dan orang perorang, tapi jutaan massa rakyat.
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/07/devide-et-impera-dibalik-demo-hip.html]

Dan sepengetahuan saya, mereka hampir semuanya anti komunisme 100% ! Secara institusi PDIP yang saya fahami dan saya kenal adalah kumpulan kaum nasionalis Bung Karno yang anti Komunisme ! Jadi, siapa pun yang berkepentingan meng-komuniskan PDIP, perlu dicurigai sebagai agen dari kekuatan luar yang sengaja menebar politik devide et impera.
Tujuannya ya melemahkan kekuatan rakyat bangsa Indonesia. Agar Indonesia dapat mereka kuasai. Bisa jadi bukan oleh mereka yang sekarang ribut, tapi  oleh pihak ketiga yang justru tak muncul di lapangan konflik.

Untuk memprovokasi lebih jauh lagi, pembakaran bendera PDIP yang disandingkan dengan bendera PKI, dilakukan secara demonstratif.
Ketersediaan bendera Palu Arit PKI yang masih tampak baru, fresh from the oven, membuat saya tersenyum.
Setiap akal waras pun akan menyimpulkan pasti lah ada pihak yang sengaja mempersiapkan dan merancang terjadinya peristiwa ini.

Ketika beberapa kawan bertanya kepada saya; siapa sebenarnya yang bermain api di belakang peristiwa ini ? Spontan saya jawab.., wah maaf, itu domain Badan Intelejen Negara (BIN) dan Kepolisian RI untuk menjawabnya..’
Karena apa yang terlihat secara kasat mata oleh mata publik, biasanya hanyalah bayangan atau shadow puppet dari sang dalang yang sesungguhnya memainkan semua ini.

Saya jadi teringat kembali suasana saat prakondisi terjadinya G30S PKI. Saat itu kelompok kiri (PKI) dan konco-konconya  tampil beringas, ganas, dan menakutkan. Pada akhirnya mereka tergiring dan terpancing melakukan gerakan politik ‘kudeta’.
Maka terciptalah sejarah G30S PKI. Mereka pun terjebak dan terperangkap. Tentara dibantu rakyat pun, menumpas golongan kiri (PKI) sampai ke akar-akarnya.
Selanjutnya, dengan sigap dan penuh kesiapan, tentara menguasai seluruh linie yang ada dalam bangunan politik di negeri ini. Berlanjut hingga tiga dekade lebih berkuasa.

Ketika pemerintah Amerika membuka kotak pandora yang berisi dokumen sejarah G30S PKI, karena sudah melewati batas waktu kerahasiaan, terkuaklah dokumen bagaimana CIA mengambil peran sangat aktif (dalang) dalam upaya penumbangan Bung Karno dari kekuasaannya.
Sementara Suharto oleh banyak pengamat ditempatkan hanya sebagai pelaksana proyek politik Amerika dalam konteks perang dingin saat itu (kepentingan geopolitik).

Hembusan Poros Jakarta-Peking pun ampuh meluluh-lantakkan kekuasaan Bung Karno dan barisan pendukungnya yang dilabelisasi sebagai barisan pro komunis. Kekuatan rakyat dipecah-belah.
Selanjutnya Amerika pun menjadi perancang tunggal bagaimana Indonesia seharusnya berdiri sebagai sebuah negara yang siap menjadi kompradornya kaum kapitalis. Kekayaan negara dan kekayaan yang terpendam dalam perut bumi di seluruh Nusantara, di bawah kontrol mereka sepenuhnya. Sebagian besar menjadi ‘bancakan’ kroni penguasa Orba dan para cukong yang sekarang dikenal dengan istilah konglomerat.

Dengan munculnya demo mirip-mirip desain masa lalu, saya jadi miris bila ternyata akan melahirkan pengulangan sejarah yang sangat buruk. Hanya bedanya dulu ekstrim kiri yang dihabisi, kali ini ekstrim kanan yang dijadikan alat untuk masuk dalam wilayah ‘jebakan Batman’. Walau tanda-tanda ke arah sana masih jauh dan samar, trauma masa lalu menggeret saya ke ruang imajinasi di mana gambaran kekalahan rakyat untuk ke sekian kalinya bakal terjadi.

Belajar dari sejarah, komponen masyarakat yang bisa dinyatakan sebagai bonggolnya kekuatan massa rakyat Indonesia adalah ketika massa kaum Banteng (Marhaen) Nasionalis, kaum Nahdliyin, dan massa rakyat pengikut Muhammadiyah, bersatu dan bergandeng tangan erat saling bahu-membahu sebagai satu kesatuan rakyat.
Ketika dua kekuatan Nasionalis-Islam ini dihancurkan, hancur pula lah kekuatan rakyat Indonesia. Itulah (politik devide et impera) yang digunakan kaum penjajah yang jeli, termasuk apa yang dilakukan semasa pra dan saat terjadinya G30S PKI.
 
Oleh karenanya, ketika saya mendampingi Mbak Mega, sebagai the leader of opositition terhadap rezim Orde Baru, beliau dan sejumlah sesepuh menugasi saya untuk merajut dan membangun  barisan perlawanan. Menjalankan tugas ini, sejarah kekuatan rakyat di masa pra hingga pasca Kemerdekaan berikut saat terjadinya peristiwa G30S PKI, saya jadikan referensi dasar dalam menyusun strategi perlawanan.

Maka muncul kesimpulan bahwa PDIP tidak bisa memenangkan apa-apa bila hanya berjalan sendiri. Saya tawarkan agar kita (PDIP) merapat dan merangkul Gus Dur sebagai pemimpin barisan rakyat Nahdliyin.
Maka pertemuan pertama antara mbak Mega dan Gus Dur pun terjadi untuk pertama kali di rumah mertua, Ilen Surianegara, di Jl. Teuku Umar no.6. Terjadinya pertemuan ini atas bantuan Syaifulah Yusuf, keponakan Gus Dur.

Dalam perjalanannya terbangun kebutuhan agar PDIP membangun sinergi dengan pemimpin Muhammadiyah yang saat itu melembaga dalam diri mas Amin Rais. Pertemuan pun terjadi di rumahku Jl, Deplu Raya no.9. Bintaro.
Saat itu mas Amin didampingi mas Abdilah Toha dan mas Mudrik, tokoh PPP Solo. Berlanjut dengan lahirnya gerakan Mega Bintang. Dengan pertemuan ini, maka gerakan perlawanan semakin terasa greget dan gigitannya terasakan secara lebih meluas.

Dengan bergabungnya tiga pilar kekuatan massa rakyat Indonesia ini, maka perlawanan terhadap rezim Orde Baru mulai mendapatkan bentuk dan kekuatan sejatinya rakyat Indonesia. Dan sejak itu lah, gempuran terhadap bangunan rezim Orde Baru datang dari berbagai penjuru. Karena massa rakyat dari golongan minoritas pun bergabung dalam satu kekuatan massa rakyat anti Orde Baru. Alhasil, Orde Baru pun melemah dan krisis ekonomi 98 mengantar kejatuhan rezim Orde Baru.

Namun sayangnya, ketika rezim Orde Baru berhasil ditumbangkan, ketiga pilar kekuatan rakyat; massa Marhaen - Nahdliyin - Muhammadiyah, kembali terpecah menjadi tiga bagian yang berjalan sendiri-sendiri.
Terjadinya terlalu cepat dan saat itu kita belum sempat membangun konsolidasi kekuatan nasional pasca Orde Baru. Kekompakan dan kobaran semangat kebersamaan pun perlahan lenyap tersapu gelombang ego sektoral dan nafsu kekuasaan yang menggiurkan tapi sekaligus menjadi ‘jebakan Batman’ yang memilukan dan menyakitkan. Sebagai akibat, kekalahan substansial sangat dirasakan oleh massa rakyat di tiga kelompok ini hingga sekarang.

Memaknai gencarnya manuver politik devide et impera belakangan ini, pertanyaan saya sangat sederhana : kapan kita akan bangkit dalam kesadaran untuk memilih jalan yang benar-benar dapat membawa bangsa ini hadir sebagai bangsa pemenang yang sejati dan sesungguhnya ?
Bukan sebuah kemenangan yang berada di garis maya, padahal realitanya tetap berada j sekarang.

Kemenangan yang diimpikan itu baru akan kita alami dan rasakan ketika terjadi kebangkitan kesadaran untuk mengenali betul; siapa musuh dan siapa kawan sesungguhnya, secara substansial. Sehingga tidak mudah diadu domba !
Massa di bawah panji dan bendera Islam (Nahdliyin-Muhammadiyah) dan massa Nasionalis BK, jangan pernah lagi diperhadapkan ! Tiga bersatu, rakyat pasti menang. Dan politik devide et impera pun, akan mati kehilangan ruang hidupnya !
Artikel ini terbit juga di  WATYUTINK.Com
Sebarluasksn bila setuju !
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/07/devide-et-impera-dibalik-demo-hip.html]

Kawasan Industri Terpadu Batang sudah mulai membuka pintu


Kawasan Industri Terpadu Batang sudah mulai membuka pintu. Hingga saat ini sudah ada 7 perusahaan asing yang masuk ke kawasan industri itu. Presiden Jokowi berharap perusahaan itu bisa menyerap banyak tenaga kerja lokal.

Selain itu, sdh ada 17 PT menunjukkan komitmennya untuk masih ke Kawasan Industri Terpadu Batang. Prosesnya, kata Jokowi sudah hampir 100%.

"Ini juga terus saya sampaikan pada para menteri Kepala BPKM, untuk terus dilayani dan dikejar. Disampaikan fasilitas-fasilitas apa yang ingin kita berikan baik urusan lahan, urusan izin, urusan listrik, urusan gas dan yang lain-lain yang ini akan memberikan sebuah daya saing negara kita dalam rangka mereka mau relokasi ke Indonesia," tuturnya.

Mereka merelokasi ke Indonesia itu ditaksir total investasinya mencapai US$ 37 miliar. Mereka diperkirakan bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 112.000 orang.

Salah satu perusahaan telah menyatakan komitmennya yaitu LG Chemical dengan nilai investasi US$ 9,8 miliar, potensi penyerapan kerja 14.000 orang.

Daftar 7 perusahaan yang sudah dipastikan merelokasi perusahaannya ke Kawasan Industri Terpadu Batang :

- PT Meiloon Technology Indonesia
Relokasi pabrik dari Suzhou, China. Pabrik di Taiwan dan China merupakan pusat produksi untuk pasar global

-PT Sagami Indonesia
Relokasi pabrik dari Shenzen, China karena biaya pabrik dan tenaga kerja di indonesia lebih kompetitif dari China

-PT CDS Asia (Alpan)
Relokasi pabrik dari Xiamen, China karena tarif impor produknya dari Indonesia ke Amerika 0% dibanding tarif 25% dari China ke Amerika

_PT Kenda Rubber Indonesia
Relokasi pabrik dari Shenzen, China karena peningkatan permintaan pasar di Indonesia

-Denso, PT Denso Indonesia
Relokasi pabrik dari Jepang karena memandang Indonesia sebagai lokasi terbaik setelah melakukan riset ke berbagai negara di kawasan ASEAN

-PT Panasonic Manufacturing Indonesia
Relokasi dari China karena ingin menjadikan Indonesia sebagai pasar basis ekspor bagi beberapa kategori produk home appliances

-PT LG Electronics Indonesia
Relokasi dari Korea Selatan dan berencana menjadikan Indonesia sebagai regional hub baru yang menjangkau pasar Asia dan Australia
[detik.com]
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/07/kawasan-industri-terpadu-batang-sudah.html]
https://www.infopresiden.com/2020/07/ini-7-perusahaan-asing-yang-mau-masuk.html?m=1
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

RIBUT INI PANGKALNYA APA ?


Soal Ahok? Bukan. Soal Jokowi? Bukan.

Oleh : Goenawan Muhammad.

Ini adalah soal orang-orang yang merasa bahwa Islam dan kaum muslim masih dipinggirkan.
Ini adalah soal orang-orang yang menganggap orang Kristen itu musuh.
Ini adalah soal orang-orang yang menganggap Indonesia sedang dan akan dikuasai Cina.

Soal Islam yang dipinggirkan, sebenarnya umat Islam itu kurang apa sih? Kementerian Agama itu hampir 100% kegiatannya melayani kebutuhan umat Islam. Lalu ada pengadilan agama, yang khusus melayani umat Islam. Ada badan amil zakat, juga untuk umat Islam.

Tahu nggak bahwa anggaran Kementerian Agama itu sebesar 62 T, nomor 3 terbesar, setelah Kementerian Pertahanan dan Kementerian PUPR? Untuk apa? Sebagian besarnya dinikmati umat Islam.

Jadi apa yang kurang? Yang kurang adalah rasa terima kasih kepada negara dan pemerintah.

Masih ada orang Islam yang belum puas kalau negara ini tidak ditata sesuai kehendak mereka. Mereka ingin pakai aturan Islam, semua dipegang orang Islam, yang non muslim jangan menonjol. Mereka tidak ingin hidup saja, tapi mereka ingin menguasai.

Lalu, ini juga soal orang-orang yang menganggap Kristen itu adalah musuh. Mereka meyakini bahwa Kristen tidak akan pernah diam, sampai mereka menguasai umat Islam. Ahok itu Kristen. Tapi Jokowi kan muslim? Jokowi difitnah Kristen. Jokowi juga difitnah komunis.

Apa salah orang Kristen? Mereka menzalimi umat Islam. Kapan? Itu waktu Perang Salib? Ha? Itu perang antara orang Arab dengan orang Eropa. Kenapa kita ikut?
Mereka, orang-orang Arab itu tidak pernah peduli dengan sejarah kita, kok.

Tapi, itu penjajah Belanda kan Kristen? Oh ya? Kalau penjajah Jepang itu apa? Tahu tidak, Turki itu juga menjajah Arab. Muslim menjajah muslim. Kau menyebutnya khilafah islamiyah. Prinsipnya imperium besar, seperti gagasan Asia Raya yang dibawa Jepang. Bedanya, Jepang tidak menjual Tuhan mereka pada kita, atau jualan Tuhannya tidak laku.

Karena merasa terjajah itulah negara-negara Arab kemudian memberontak terhadap Turki, lalu memerdekakan diri.

Penjajahan itu soal suatu bangsa ingin menguasai bangsa lain. Ia tidak membawa kepentingan agama. Ingat, orang-orang Kristen juga berjuang melawan penjajah, untuk memerdekakan diri.

Ahok itu Cina, kata mereka. Jokowi? Jokowi juga difitnah Cina.
Cina menguasai ekonomi, kata mereka. Eh, ada Bakrie, Chairul Tanjung, Kalla, dan masih banyak lagi. Mereka bukan Cina, tapi juga menguasai ekonomi. Jadi, siapa yang menguasai ekonomi? Yang bekerja keras.

Pada akhirnya, ini adalah soal orang-orang yang tidak bernalar dengan benar. Tidak paham agama, tidak paham sejarah, tidak berpikir. Bahkan juga tidak bekerja. Orang-orang yang kalah dalam persaingan kehidupan, lalu sibuk menyalahkan orang lain.

Saat orang-orang bekerja, mereka berdemo. Lha, kapan kau akan menguasai ekonomi kalau kau tidak bekerja...?

#Goenawan Mohamad#
🙏🇮🇩🌈👩‍👩‍👧‍👧🤝🇮🇩🙏
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/07/ribut-ini-pangkalnya-apa.html]

Saturday, 27 June 2020

Hanya PKI Asli Yang Tidak Berani Demo Sarangnya PKI


HANYA PKI ASLI YANG TIDAK BERANI DEMO SARANGNYA PKI

Terlalu banyak kejanggalan pad demo yang mengangkat isue anti PKI, mereka selalu demo menyasar di tempat yang salah.

Kenapa mereka tidak demo ke balaikota yang gubernurnya mengangkat pro PKI jadi TGUPP dan direksi TransJakarta?

Ciri komunis itu suka membuat propaganda dan fitnah. Lempar batu sembunyi tangan, maling teriak maling.

Mereka yang demo anti PKI, sesungguhnya merekalah PKI sejati, PKI gaya baru, PKI berkedok agama.

Mau bukti? Coba tanya dimana mereka dapatkan bendera PKI yang mereka bakar? Mereka juga yang cetak, mereka sendiri yang bakar.

Siapapun yang anti PKI tidak akan mau mencetak bendera berlogo palu arit walau nanti untuk dibakar disaat demo sandiwara.

Mereka yang PKI teriak pihak lain sebagai PKI, mereka melempar isue ada PKI lalu sembunyi tangan. Itulah ciri-ciri propaganda dan fitnah ala PKI.

@catatanemas
• https://www.instagram.com/p/CB4v6Atp9WF/
• https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2706273562812512&id=570190983087458

NURSYAHBANI KATJASUNGKANA TGUPP ANIES BASWEDAN PEMBELA PKI
• https://www.indovoices.com/umum/tgupp-dari-juru-ketik-sampai-aktivis-lgbt-dan-pembela-pki-juga-ada-komplit/
• https://www.jurnalindonesia.co.id/2018/01/06/politik/nursyahbani-katjasungkana-aktivis-lgbt-dan-pembela-pki-yang-jadi-anggota-tgupp-dki-bidang-pencegahan-korupsi/
• https://www.merdeka.com/dunia/sidang-rakyat-pembantaian-pki-digelar-di-belanda-pemerintah-gerah-50-tahun-pembantaian-1965.html

DIREKTUR TRANSJAKARTA PENDUKUNG ANIES BASWEDAN BERFOTO KENAKAN KAOS PALU ARIT
• https://medan.tribunnews.com/2017/12/15/heboh-pria-disebut-sebut-tim-gubernur-anies-sandi-pakai-baju-berlogo-palu-arit-pki
• https://www.melekpolitik.com/2020/05/17/viral-tangan-kanan-aniesbaswedan-dan-direktur-transjakarta-mengaku-pakai-kaos-palu-arit/

#pki #komunis #malingteriakmaling #pkiteriakpki #aniesbaswedan #gubernurdkijakarta #catatanemas

TIM GUBERNUR ANIES-SANDI PAKAI BAJU BERLOGO PALU ARIT PKI
• https://medan.tribunnews.com/2017/12/15/heboh-pria-disebut-sebut-tim-gubernur-anies-sandi-pakai-baju-berlogo-palu-arit-pki
Jumat, 15 Desember 2017 09:03
 
Salah satu timses Anies Sandi yang tergabung dalam TGUPP memakai kaos bergambar lambang palu arit. (Twitter)

TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah postingan foto di facebook menjadi viral dan menyebar ke Medsos lainnya.

Hal itu terkait foto seorang pria yang memakai baju palu arit lambang partai komunis.

Pria itu bernama Ahmad Izzul Waro yang disebut menjadi bagian dalam tim gubernur untuk percepatan pembangunan (TGUPP) Anies Sandi.

Dalam postingan itu ditulis Izzul menjabat Ketua TGUPP bidang transportasi Anies-Sandi.

Di foto itu Izzul tak sendirian, tapi berfoto bersama penggiat LSM lainnya seperti Tulus Abadi dan Azas Tigor Nainggolan.

Dari pemberitaan di sebuah media online dalam perbincangan warganet di Medsos, diketahui Ahmad Izzul Waro merupakan ahli transportasi dan pernah menjadi komisioner di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Nama Ahmad Izzul Waro pun disebut masuk dalam daftar dewan pakar Anies-Sandi.

Warganet memberi berbagai tanggapan terkait foto viral tersebut.

Akun @ustadzthink berkomentar 'Ini pakai baju Palu Arit kenapa tidak diprotes?

Akun @i_arseto menulis di twitter '@ustadzthink @habibthink What... ketua TGUPP???'

Akun twitter @sokancut memilih menyebarnya ke akun aparatur negara, '@ustadzthink Lapor @DivHumasPolri @Puspen_TNI'

PEMUDA BERKAOS LAMBANG PKI DIAMANKAN APARAT KODIM
• https://m.cnnindonesia.com/nasional/20160521232052-20-132476/pemuda-berbaju-lambang-pki-diamankan-aparat-kodim

TANGAN KANAN ANIES BASWEDAN, DIREKTUR TRANSJAKARTA MENGAKU PAKAI KAOS PALU ARIT
• https://www.melekpolitik.com/2020/05/17/viral-tangan-kanan-aniesbaswedan-dan-direktur-transjakarta-mengaku-pakai-kaos-palu-arit/
17/05/2020 15:34

Direktur Pelayanan dan Pengembangan PT Transjakarta, Achmad Izzul Waro yang dikenal sebagai tangan kanan Anies Baswedan kedapatan berfoto dengan mempergunakan kaos begambar palu arit yang biasanya dipergunakan sebagai lambang partai-patai komunis, sosialis dan sejenisnya.

Hal ini diungkapkan oleh netizen pemilik akun twitter @narkosun dalam cuitannya.

“Owalah ternyata beneran dia… Yang suka teriak bakso, memang tukang bakso. Yang suka teriak tahu, penjual tahu. Yang suka teriak PKI, eeh…. Bahkan ada yang sampe hapal hari ulang tahun PKI segala.”

Kelakuan anak buah Anies itu kemudian mendapat komentar pedas dari pengguna twitter lainnya.

@tisnainyoman: Uaaaasem Jejak digital memang kejam

@muji_haryaka: Itu kan semua menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan... jauh dari jujur dan adab

@anikfrisa: Kemarin ada yang komen itu hoax….sekarang terbukti…

@redi32678944: Laporkan Ternyata Achmad Izzul Waro tukang Komunis PKI

@rawlang: PKI lo njing! Gw pake kaos doraemon ya karena gw suka doraemon, dan gw berharap bisa jadi doraemon! Ya lo pake kaos PKI emang lo PKI!

[mp]

#pki #komunis #pks #aniesbaswedan #transjakarta #komunisteriakpki #haloindonesia #indonesiamaju

Copas share..
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🌈

Soal Jiwasraya


Soal Jiwasraya, Arief Poyuono: Jokowi Tukang Cuci Piring Kotor Ulah Bakrie DKK!

 Jun 26, 2020

Kegigihan seorang Jokowi dalam menumpas koruptor mendapat restu Sang Kuasa. Bahkan suara pembelanya datang dari eks oposisi yang dulu sesalu getol menyerangnya. Ialah Arief Poyuono yang kini ikut mengupas kasus Jiwasraya. Pernyataannya singkat namun telak membuat penegak hukum dan mantan penguasa lama kepanasan.

Kalau dalam isu PKI ia menyebut penciptanya adalah kadrun, isu Jiwasraya disebut dibuat antek penguasa lama. Kejanggalan penyelidikan sejak era 2008 dan tak berani mengusut tahun sebelumnya menjadi kunci mati para penegak hukum. Apa yang hendak disembunyikan? Apakah tujuannya memang menuduh Jiwasraya untuk dana kampanye Jokowi?

Sebelumnya dilansir jpnn.com, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono menyebut masuknya perkara Jiwasraya ke tingkat pengadilan membuat tudingan pihak tertentu ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi terbantahkan.

Sebab, kata Arief, jiwasraya yang pada awalnya merupakan kasus pasar modal, menjadi gorengan politik karena dikaitkan dengan pemerintahan Jokowi.

"Dengan masuk persidangan, tuduhan yang selama ini dilancarkan oleh pihak lawan-lawan Jokowi terbantahkan. Misalnya, ada tuduhan duit Jiwasraya mengucur ke kampanye Jokowi, kini hanya jadi fitnah semata," kata Arief dalam pesan singkatnya kepada awak media, Kamis (25/6).

"Kesimpulannya, pemerintahan Jokowi hanya bernasib sial, karena Jiwasraya sudah busuk sejak lama. Pemerintan Jokowi seperti tukang cuci piring kotor belaka. Yang menikmati makanannya adalah rezim dan komplotan yang lama," ungkap Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Arief mengungkapkan, pada tahun 2008, saat pergantian direksi, posisi Jiwasraya sudah minus Rp 5,7 Trilliun. Artinya Jiwasraya sudah rugi sebelum tahun 2008, sebelum direksi baru waktu itu diangkat. "Namun anehnya mengapa Kejaksaan melokalisir kasus Jiwasraya hanya di periode 2008-2018? Mengapa sebelum tahun 2008 tidak diusut?" ujarnya heran.

Arief pun bertanya-tanya, apakah betul seperti kabar yang beredar bahwa Bakrie telah melakukan "deal" baik dengan Kejaksaan dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk tidak mengungkit keterlibatan mereka pada kasus Jiwasraya.

“Pertanyaan ini muncul kalau membaca Laporan Utama TEMPO 'Bakrie Dirunut, Auditor Terbelah'," ujarnya. Arief menjelaskan, selain tidak dibongkarnya kasus lama Jiwasraya sebelum tahun 2008, Kejaksaan juga masih gagal membongkar OJK yang merupakan lembaga pengawas yang bertanggung jawab penuh pada Jiwasraya.

“Kejaksaan belum memunculkan peran OJK dalam drama politik penegakan hukum Jiwasraya ini, khususnya Ir. Hoesen MM sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal," kata Arief.

Akhirnya Tuhan meminjam mulut Arief untuk mengungkap kebenaran dan membersihkan pemerintah Jokowi dari segala fitnah. Kini kita tahu semua motif diusutnya Jiwasraya sejak tahun 2008 untuk menutupi kasus lama era Abu Rizal Bakrie menjabat sebagai Menko perekonomian.

Makanya acara ILC berjudul "Membongkar Dalang Jiwasraya" 5 bulan yang lalu mengundang narasumber Said Didu. Karena dialah oposisi yang waktu itu menuduh Jokowi memakai dana Jiwasraya untuk kampanye. Sebenarnya acara ILC milik Bakrie hendak cuci tangan keterlibatan bosnya dalam skandal Jiwasraya.

Jadi Bakrie yang sempat menikmati hampir 4 triliun dana Jiwasraya yang kini menguap di beberapa perusahaannya tetap aman. Berbekal koneksi ke lembaga negara seperti BPK dan juga medianya, Bakrie hendak melimpahkan kasus ini ke mulut pemerintah saat ini.

Untuk itu, pemerintah dan aparat penegak hukum harus mampu menyelidiki borok Jiwasraya dari awal yakni sebelum tahun 2008. Kalau direksi baru (2008) dan Benny Tjokro bisa ditindak, komplotan Bakrie juga harus merasakan hukuman yang sama. Saatnya mereka mendekam di penjara dan negara harus berani menyita aset Bakrie. Jangan sampai tiap 17 Agustus negara memperingati kemerdekaan, sementara penjajah dari kaum sendiri masih leluasa.

Kalau sampai Bakrie lolos lagi, yang menanggung rugi adalah para nasabah dan negara. Tengok kasus Lapindo yang merugikan negara 700 Milyar lebih, ini akibat piciknya Bakrie memainkan negosiasi. Negara cuma diberi aset tanah sekitar lapindo yang harganya sudah pasti turun. Meski begitu keluarga Bakrie masih bisa hidup mewah hingga membelikan menantunya rumah besar di USA. Kalau Setnov yang licin saja akhirnya terciduk, harusnya Bakrie bisa terseret beserta aset-asetnya.

Begitulah kura-kura.

Referensi:

https://m.jpnn.com/news/arief-poyuono-tuduhan-duit-jiwasraya-ke-kampanye-jokowi-sudah-terbantahkan


https://seword.com/umum/soal-jiwasraya-arief-poyouno-jokowi-tukang-cuci-Phb7LFPFTL

Monday, 22 June 2020

Ade Armando: SEBAGAIMANA AHOK, PSI JUGA AKAN DIHABISI


Ali Sadikin Dan Mimpi Soekarno


Djakarta, Ali Sadikin dan Mimpi Sukarno

Suatu waktu di tengah kemelut akibat Gestapu 1965, Bung Karno duduk di depan Istana Negara. Pikirannya menerawang, ada satu soal yang belum ia selesaikan. "Membangun Djakarta". Dulu pemerintahan Hindia Belanda sudah membangun sebuah kota model kolonial yang terbaik sedunia, Bandung namanya. Kota Bandung pernah dipamerkan dalam Pameran Kota-Kota Kolonial di Paris sekitar tahun 1920-an sebagai kota paling cantik yang dibangun pada permulaan abad 20. Bung Karno berpikir, ia ingin Djakarta menjadi Jiwa dari bangsa Indonesia, kota yang teratur tapi dinamis. Kota yang menjadi poros revolusi struktur masyarakat Indonesia. Inti dari Revolusi Sukarno adalah kemandirian, Mandiri total sebagai bangsa. Dengan mandiri maka sebuah bangsa akan membangun kebudayaaannya sendiri, membangun ekonomi kerakyatannya sendiri dan membangun karakter yang kuat.

Bung Karno memang terpukau dengan kota-kota di Negara Komunis yang disana sini banyak monumen, tapi Bung Karno juga sedari muda jatuh cinta dengan kota-kota di Amerika Serikat, saat ia berkunjung ke AS ia minta diantar untuk melihat taman-taman kota, pusat-pusat seni dan yang paling favorit bagi Bung besar ini adalah 'mengunjungi museum'. Bung Karno melihat ada dua fungsi dalam sebuah kota. Jiwa yaitu Monumen yang merupakan petilasan akan kenangan perjalanan hidup sebuah bangsa dan Gedung yang merupakan fungsi ruang bagi sebuah warga kota bergerak. Monumen dan Gedung akan selalu menjadi paralel dalam pembangunan kota impian bagi Bung Karno. "Djakarta ini sebuah kampung besar, sebuah big village dan Djakarta dalam cepat harus dibangun sebagai kota Internasional...untuk itu aku harus mencari orang yang bisa memimpin sebuah kota besar. Seorang pemimpin yang paham Accynering, City Planning, Architectuur, dia harus tau soal sampah, tau bagaimana mengatur selokan dan keras kepala. Seorang pemimpin yang bisa melihat jauh ke depan tanpa mengeluhkan kekurangan. Bung Karno berpikir keras......

Esok paginya, Bung Karno memanggil beberapa stafnya termasuk Waperdam Leimena. "Coba sodorkan aku beberapa nama untuk pimpin ini kota Djakarta..!" perintah Bung Karno. Salah seorang menyebut Henk Ngantung, Bung Karno terdiam 'Henk itu susah, dia dijepit posisinya...dan dia sudah memimpin kota Djakarta. lalu Leimena bilang "Bagaimana kalau Ali Sadikin?" Bung Karno menoleh pada Leimena "Pak Lei, bukankah Ali sekarang sudah jadi menteri?"...Leimena bilang, orang yang paling keras di Djakarta ya Ali Sadikin. Kemudian salah seorang dari pertemuan itu nyeletuk :"Mayor Sjafei kalah gahar ketimbang Jenderal Ali"....Bung Karno tertawa. Coba siapkan pelantikan untuk Ali Sadikin.

Pada tanggal 28 April 1966, di Istana Negara Bung Karno melantik Ali Sadikin. Bung Karno berpidato dalam pelantikan Ali ini dengan penuh semangat, matanya menyala-nyala, ia gembira melihat salah satu pemuda Indonesia akan memimpin sebuah kota. Ali Sadikin tampak seolah-olah bayangan kecil Bung Karno. "Ali kamu akan memimpin kota, itu bukan pekerjaan gampang, tetapi Insya Allah doe je best, agar engkau dalam memegang kegubernuran Djakarta Raya sekian tahun lagi orang masih mengingat, die heeft Ali Sadikin Gedaan - Inilah perbuatan Ali Sadikin. Bismillah, mulailah engkau punya pekerjaan" Tutup Pidato Bung Karno. Dan Bung Karno pun maju menyematkan tanda jabatan kegubernuran, tinggal Ali Sadikin yang pusing bukan maen.

Bagaimana tidak, ia mewarisi satu sistem pemerintahan daerah yang tidak teratur. Administrasinya berantakannya, dan yang paling sinting lagi ia hanya memiliki anggaran sangat terbatas. Sekitar 66 juta per tahun. Bagi Ali Sadikin ini proyek mustahil. Tapi Ali Sadikin agak tertolong oleh kasus carut marutnya take over kekuasaan sehingga ia ada waktu untuk berpikir tentang arah kebijakan umum kota. Ali Sadikin di satu sisi sangat loyal pada Bung Karno tapi realitas kekuasaan sudah pelan-pelan bergeser ke Suharto, dan pilihan Bung Karno benar adanya, Suharto nggak bakalan berani ciduk Ali Sadikin karena bekingan KKO-nya sangat kuat, disamping itu memang Ali terkenal keras dengan Komunis jauh sebelum Suharto belagak anti Komunis. Pak Harto tidak berani secara frontal berhadapan dengan Ali.

Suatu waktu di tahun 1969, Ali pernah melihat Bung Karno secara sepintas dan Ali menangis. Ia melihat Bung Karno yang dirusak kesehatannya oleh tentara-tentara Orde Baru duduk tak berdaya disiksa sakit, kepala Bung Karno yang botak dan badannya lemah. Bung Karno agak sedikit mengenali Ali ditengah ingatannya yang dulu terkenal kuat itu melemah akibat penyakit ginjal yang merusak kondisi mental psikisnya Bung Karno berkata lirih. "Ali...Djakarta..Ali...Djakarta" kata Bung Karno terbata-bata. Dan Ali dalam hati membatin, "aku harus jaga amanat Bung Karno ini, bagaimanapun ini kota kecintaan bangsa Indonesia, kota kesayangan Bung Karno...". Setahun setelah pertemuan itu Bung Karno meninggal.

Suatu waktu Ali Sadikin menyetir sendiri mobilnya ke kantor Gubernuran. Ali biasa berangkat jam 5.30 pagi, ia sengaja melihat seisi kota. Ali senang incognito jalan-jalan ke pasar untuk melihat stok sayuran di Djakarta, mengontrol selokan dan sudetan kali. Di satu tempat dekat Pasar Santa Kebayoran Baru ia melihat segerombolan orang bermain gaple. .."Teng" ia mendapat ilham. Ia berputar-putar sejenak di dalam kota Djakarta dan berpikiran tentang judi ini. Sesampainya di kantor ia berteriak dan memanggil staf-nya. "Hai, coba kau cari peraturan tentang judi". Setelah stafnya mengambil data peraturan Ali baru tau ternyata Pemda bisa mengambil pajak dari judi lewat peraturan daerah no.11 tahun 1957. "Kamu, panggil Pak Djumatidjin, ke ruangan saya" Djumatidjin adalah pegawai senior di Pemda DKI. "Pak Djum, apa bisa Pemda DKI narik itu uang judi buat pajek?" kata Ali sambil tangannya mendekap dada, matanya melebar."Bisa Pak, dasar aturannya ada". Lalu Ali berkata singkat "Saya perintahkan adakan judi legal dan dipajekin. Hasilnya buat saya bikin ini Djakarta baik..laksanakan". Pak Djumatidjin dan beberapa orang staff Ali menyahut bersamaan 'Siap Pak'.

Dan dengan cepat tindakan Ali ini mendapat sambutan para jago judi se Djakarta terutama Cina-cina yang suka sekali dengan judi. Kasino banyak dibentuk, pajak judi terus mengalir ke Kas Pemda. Ledakan kas luar biasa. Tapi Ali bukanlah jenis pejabat korup, ia berbakti pada tugasnya. Uang Judi itu ia arahkan ke pos-pos pembangunan infrastruktur, sekolah-sekolah rakyat, pusat-pusat kesenian, taman hiburan rakyat macam Ragunan, gelanggang olahraga dan Pasar-pasar rakyat. Ali sudah menaburkan benih bahwa pada sebuah kota itu keteraturan, dinamika yang terpisah dan kebudayaan menjadi satu kesatuan. Suatu kota yang harus punya iramanya sendiri. Ia harus punya jiwa, ia punya badan, janganlah satu kota hanya menempatkan manusia menjadi besi-besi tua yang berjalan. Ali menjadikan Djakarta sebagai kota dimana manusia menemui kemanusiaannya.

Di satu waktu Ali disidang oleh anggota DPRD terhadap dana judi. Dengan lantang Ali berkata pada mereka :"Oke Saudara-saudara sekalian, ini memang dana judi. Tapi kalau kalian mengharam dana judi, itu hak saudara-saudara, silahken Saudara naik helikopter karena jalan-jalan yang mulus itu saya bangun dari dana judi!"......Ali memang pemarah tapi tegas. Ia tiap pagi kerjanya mengontrol saluran selokan, kali-kali besar di Djakarta ia perintahkan untuk dibersihkan bantarannya, Ia kumpulkan seniman dan menanyakan problem-problem masyarakat pada seniman dan sastrawan. Ali sadar bahwa jiwa sebuah bangsa, teriakan sebuah bangsa itu yang bisa menangkap seniman dan sastrawan. Ali melindungi kesenimanan dan kepengarangan dengan mengadakan kompetisi, pemda sendiri yang membiayai.

Tahun 1974 kepopuleran Ali sudah mencapai puncak. Ada dua rivaal Suharto saat itu, Jenderal KKO Ali Sadikin dan Jenderal Mitro Gendut, Jenderal Mitro sempat menegur Ali "Pak Ali, saya tidak mau ambil pusing berita soal bapak digadang-gadang jadi Presiden RI, tapi tolong kalau bapak bicara ke mahasiswa jangan memanas-manasi situasi" ditegur begitu Ali diam saja. Tak lama setelah Malari meletus Mitro tersingkirkan.

Ali Sadikin maju terus, proyek Taman Mini ali oke..Ali juga memanggil Ciputra dan berkata "Pak Tji, saya mau itu Ancol jadi pantai mirip Ipanema atau Copacabana.." Ciputra tertawa dan berkata "segera pak" PT Jaya yang merupakan pelaksana proyek dari proyek2 Pemda melaksanakan dengan cepat.

Ali Sadikin sudah mengajarkan pada kita tentang makna sebuah kota. Kota harus menjadi ruang gerak yang dinamis bagi penduduknya, ia menjadi pusat ekonomi tapi juga harus punya jiwa. Kota adalah ruang terbuka, ia ruang publik dan disitulah nafas harus dihirup sepuas-puasnya. Kota yang dikurung gedung hanya untuk kepentingan Kebendaaan akan mejadi kota yang bisu, kota yang beku tidak ada dinamika. Kota sudah selayaknya sebagai tempat sarang seniman, sastrawan dan budayawan. Tempat berkumpulnya atlet-atlet membina tubuhnya. Kota harus memiliki museum, dari museum sebuah masyarakat bisa banyak mengerti bagaimana kekikinia dibentuk. Kota harus memberikan akses ekonomi pada seluruh rakyat, bukan satu lapisan elite saja, kota mustinya tempat produktif sebuah pemikiran bangsa dibentuk bukannya malah tempat konsumtif yang berlebihan dan mendangkalkan daya pikir.

Kini Djakarta tumbuh tanpa konsep, setelah Ali disingkirkan dan dijadikan warga negara kelas dua karena keterlibatannya dalam Petisi 50, Djakarta gagal berkembang secara teratur. Gubernur-Gubernur Djakarta setelah Ali Sadikin bukanlah orang berpikiran ke depan, mereka sibuk menangkapi becak tapi mobil impor terus banjir tanpa mau peduli membangun sarana transportasi massal. Padahal Ali sudah membuatkan rencana pembangunan subway dan beberapa sarana angkut transportasi massal tahun 1976 tapi sudah keburu digusur Suharto.

Bahkan ada seorang Gubernur Jakarta yang berkata "Kita kekurangan Mall" Pusat-pusat perbelanjaan macam Mall mewah harus dibangun seribu lokasi lagi.

Padahal Ali Sadikin membangun pasar tanah abang, yang dibangun adalah ekonomi rakyat, bukan ekonomi elite. Yang dibangun adalah infrastruktur untuk rakyat bukan kepuasan elite, ruang terbuka mustinya dibangun untuk kecerdasan bukan melatih ketumpulan warga kota. Kini warga kota Djakarta seakan dikelilingi tembok kapitalis, tidak ada ruang yang nyaman yang bisa dimasuki tanpa harus membayar. Kota kita adalah kota dimana uang menjadi Tuhan dan manusia terbudaki karenanya...Kota yang tidak lagi mengantarkan manusia menemui kemanusiaannya.

ANTON DH NUGRAHANTO, 2010

Thursday, 18 June 2020

Arief Poyuono dan Isu PKI para Kadrun, Kenapa Gerindra Kebakaran Jenggot?


Arief Poyuono dan Isu PKI para Kadrun, Kenapa Gerindra Kebakaran Jenggot?

Oleh: Andre Vincent Wenas

Berawal dari wawancara Arief Poyuono oleh Rudi S. Kamri berjudul "Apa Kata Arief Poyuono tentang Kebangkitan PKI?" di Kanal TV Anak Bangsa yang diunggah di laman YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=NXTBLeBdd84
Temanya seputar asal-usul isu PKI di era pemerintahan Presiden Jokowi.

Dalam wawancara singkat itu, tegas sekali Arief Poyuono yang Wakil Ketua Umum Partai Gerindra dan Ketua Umum Serikat Pekerja BUMN itu mengatakan bahwa isu PKI tersebut bohong belaka. Menurutnya, isu PKI memang sengaja dimunculkan untuk mendelegitimasi kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Katanya, "Enggak ada, itu cuma isu-isu bohong aja. Isu-isu itu sebenarnya hanya untuk mendelegitimasi Kangmas Jokowi, yang selalu dituduh apa pun dia seakan-akan dia ada hubungannya sama PKI. Seperti itu kan aneh, munculnya itu di eranya Pak Jokowi aja. Dulu era SBY enggak ada, era Mega enggak ada, ini kan aneh."

Kemudian sewaktu ia ditanya tentang kemungkinan siapa yang memunculkan isu seperti itu? Ia lantang mengatakan, "Yang pasti ini adalah kadrun, kadrun-kadrun ya yang pasti. Yang kedua, mungkin orang-orang yang tidak menginginkan adanya perdamaian di Indonesia, yang selalu ingin mengacau, yang selalu ingin mendiskreditkan pemerintah yang sah dan konstitusional dengan isu-isu PKI."

Kalau ditilik, bukankah pernyataan seperti ini justru bagus bagi Partai Gerindra sebetulnya. Apalagi sekarang Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, adalah juga bagian dari formasi tim eksekutifnya Presiden Joko Widodo. Bahkan Prabowo Subianto adalah Menteri Pertahanan yang bertanggung-jawab atas situasi keamanan negara.

Namun anehnya, kok malah Arief Poyuono yang pernyataannya justru bagus buat citra Gerindra itu kabarnya bakal dipanggil oleh Majelis Kehormatan Gerindra terkait ucapannya itu.

Menurut Ketua DPP Partai Gerindra Habiburokhman, Majelis Kehormatan Partai akan segera menjadwalkan pemanggilan terhadap Arief Poyuono. Dan yang dipermasalahkannya adalah soal pernyataan Arief Poyuono tentang isu PKI yang dimunculkan oleh para "kadrun".

Bahkan Habiburokhman sampai merasa curiga ada pihak yang sengaja menunggangi Arief karena tidak suka dengan kebesaran Partai Gerindra. Ia juga menyayangkan tagar #TenggelamkanGerindra yang sempat ramai di medsos. Katanya, "Saya khawatir Pak Arief ditunggangi orang yang tidak mau Gerindra besar dan dekat dengan rakyat."

Anehnya, yang diperkarakan adalah pernyataannya soal 'PKI dimainkan kadrun'. Kenapa Habiburokhman (DPP Gerindra?) kok sewot atau kebakaran jenggot dengan pernyataan seperti itu?

Bukankah respon seperti itu malah membangkitkan kecurigraan bahwa Gerindra adalah biang dari isu PKI dari para kadrun itu?

Apakah Gerindra mendukung kadrun-kadrun itu? Apakah Gerindra mendukung isu PKI yang dimunculkan para kadrun itu?

Karena kalau tidak, ya tidak perlu sewot dengan pernyataan Arief Poyuono tersebut bukan? Sederhana saja logikanya.

Maka kabarnya pihak Arief Poyuono pun tetap bersikukuh pada pendiriannya bahwa isu kebangkitan PKI hoax dan dibuat kadrun.

Lagi pula, perihal sanksi untuk Poyuono itu juga cuma disampaikan juru bicara Gerindra Habiburokhman lewat akun Twitter-nya. Dan Arief Poyuono tetap merasa benar dengan pernyataannya.

Arief merespon, "Kadrun itu siapa? Saya tanya dulu kan. Kadrun-kadrun itu istilah, nggak ada orang yang mau disebut kadrun. Memang si Habib (Habiburokhman) mau saya sebut kadrun? Memang Gerindra kadrun? Kan bukan." Nah!

Bahkan Arief Poyuono menegaskan, "Saya akan tetap pada statement saya bahwa PKI itu cuma hoax dan yang buat saya sebut kadrun. Kenapa? PKI itu partai terlarang kan? Ideologi terlarang kan. Ada nggak yang udah ditangkap polisi? Tunjukkan di mana orang-orang PKI itu." Mantap.

Menurutnya isu bangkitnya PKI dihembuskan cuma buat mengacau negara. Padahal pemerintahan sekarang khan juga menentang PKI. Tegasnya, "Pak Joko Widodo bukan PKI, Pak Joko Widodo lawannya PKI."

Akhirnya kita malah jadi terus bertanya-tanya nih. Bagaimana ini Pak Habiburokhman, mengapa sewot dengan pernyataan Pak Arief Poyuono? Apakah Gerindra mendukung isu PKI yang dimunculkan oleh para kadrun untuk mendiskreditkan Presiden Jokowi?

Semoga tidak ya. Partai Gerindra adalah partai besar, aset politik nasional yang sudah dari awal menyatakan dirinya sebagai partai nasionalis. Juga sudah menjadi partai koalisi Presiden Jokowi. Bukankah begitu?

18/06/2020
Andreas Vincent Wenas, Sekjen ‘Kawal Indonesia’ – Komunitas Anak Bangsa
[https://politikandalan.blogspot.com/2020/06/arief-poyuono-dan-isu-pki-para-kadrun.html]

Saturday, 13 June 2020

Keluar Sarang, Waspalah

*Waspada !!!!*

*KELUAR SARANG*

Minggu2 ini akan ada gabungan *barisan sakit hati* yg akan keluar sarang. Liat aja poster2 yg beredar utk mengangkat kasus  diskusi provokatif FH UGM.

Ada dua diskusi yg mereka gelar:  pertama diskusi yg diadakah jaringan antek2  Din Syamsuddin di Muhammadiyah (Muhammadiyah). Mereka buat diskusi *menyoal kebebasan berpendapat dan konstitusionalitas pemakzulan Presiden di era Pandemi Covid-19*.  Mereka sengaja mengakat tema yg provokatif lagi. Sesuatu yg sebetulan sdh jelas doangkat agar jadi pembicaraan publik. Forum kedua, orang2nya itu2 saja, mengangkat tena : *PSBB, kegagalan konsep konstitusional*. Temanya juga provokatif tapi udh usang.

Dua tema ini sdh pernah diangkat di  FH UGM  dan memunculkan kontraoversi. Mereka sengaja ngangkat lagi agar memancing lagi kontroversi dan reaksi dari pendukung Pak Jokowi.

Karena tujuannya itu, maka sebaiknya diskusi ini dicuekin aja. Nggak usah diviralkan. Polisi kalem aja. Karena mmg tujuannya *Caper alias cari perhatian*.

Tapi yg menarik adalah aktor2nya. Sepertinya semuanya keluar sarang.  Ada Din syamsuddin sampai Suteki.Din Syamsuddin, dari awal merapat ke Jokowi, ngebet jadi Cawapres.  Gagal jadi cawapres ngambek lalu masuk barisan sakit hati.

Ada dua cara gerak Din untuk melawan Jokowi. Pertama dia memainkan Dewan Pertimbangan MUI. Walupun MUI sdh punya pengurus tapi Din justru mobilisasi jaringan ormas2  Islam  yg kecil2 di MUI. Jaringan kedua Din adalah memanfaatkan kelompok anti Jokowi di Muhamadiyah. Kelompok anti Jokowi ini dikompori utk mengkritik semua kebijakan Jokowi. Semuanya dibuat jadi salahnya Jokowi.


Lalu, ada Denny Indrayana, buronan POLRI yg sempat lari ke Australia, lalu balik jadi pengacara Meikarta. Kabarnya Denny dibuang oleh SBY krn oportunis.  Ada Refly Harun, pecatan Komut Pelindo yg sekarang jadi Youtuber. Kabarnya Refly adalah pengacara yg doyan duit dan banyak konflik kepentingan. Tinggal dikumpulkan jejak dosa2nya saat ngurus klien2 dia di MK.

Berikutnya  ada barisan sakit hati karena pembubaran HTI. Disini ada Suteki  dosen pecatan UNDIP yg jadi *pembela terdepan Khilafah* yg dicabut nyawanya oleh Jokowi. Suteki dengan didukung gerakan bawah tanah HTI selalu mencari kesempatan utk serang Jolowi.

Diluar itu ada deretan *kelompok yg belum move on* dari Pilpres 2019. Mereka tdk rela Jokowi menang.  Mereka terdiri dari kelompok purnawirawan dan pengusaha anti Jokowi. Pengusaha anti Jokowi ini tergabung di grup Aksa Mahmud dan Erwin Aksa. Sedsngkan purnawirawan anti Jokowi  di kelompok GN, Soenarko. Antek2 mereka adalah Ruslan Buton yg bikin video minta Jokowi mundur. Para purnawirawan ini berupaya masuk ke jaringan HTI dan kelompok Islam anti Jokowi dgn ngangkat isu TKA dan kebangkitan PKI.

Dan terakhir kelompok *akademisi sok jagoaan dan merasa menang sendiri*. Mereka seolah pemilik otoritas kebenaran krn disebut media sebagai pakar. Mereka berlindung dibalik tameng kebebasan mimbar akademik. Tapi sesungguhnya mereka  sedang mengangkat citra diri. Tidak ada kebenaran diluar pendapat mereka. Mereka adalah tipe intelektual kompor yg  hanya suka bikin gaduh. Coba baca kritik atas tindak tanduk mereka pada tulisan aktivis Agung Kurniawan: https://www.facebook.com/agungleak/posts/10157634359663983

Barisan sakit hati, pendukung khilafah dan intelektual kompor bersatu memanfaatkan momen ketika pemerintah Jokowi tertekan oleh dampak COVID-19.

Ditengah kesulitan rakyat justru mereka main akrobatik agar bisa membalas sakit hati ke Jokowi. Kritik sih boleh aja... Indonesia adalah negara demokrasi.  Tapi kalau tujuannya adalah mengganti NKRI dengan Khilafah,  maka gerakan itu harus *DILAWAN*.

*Sebarkan ke para pendukung Jokowi !!!!*

Utang Negara Yang Diberesin Oleh Jokowi

Analisis Peter F Gontha : Beban Hutang Negara Era Jokowi Hanya 16 T Bukan 5.000 T https://projustisianews.id/analisis-peter-f-gontha-beban-hutang-negara-era-jokowi-hanya-16-t-bukan-5-000-t/

*Makin banyak Rakyat Indonesia yang pintar, lalu sadar kalau selama ini mereka di bohongi pembenci2 Jokowi ( yang di support para koruptor2 ) yang sering  memberi data hoax*

*Ini data yang benar* 👇🏼👇🏼

*Jokowi berutang Rp1.644 T, tetapi mampu membayar utang Rp 1.628 T. Artinya, utang Jokowi sejatinya cuma Rp16 T dalam 4 tahun kepemimpinannya.*

JAKARTA, PROJUSTISIANEWS.ID — Salah satu tuduhan haters yang tersebar di media sosial adalah Jokowi membuat Indonesia ketiban utang raksasa. Bayangkan, utang Indonesia hampir mencapai Rp5.000 Triliun ( lima ribu trilyun ). Demikian komentar orang-orang yang notabene tidak suka sama Jokowi dan termakan isu bodoh dan hoax.

Salah satu yang termakan isu ini adalah sopir Grabcar di Bekasi. Ia memaki-maki Jokowi melalui media sosial. Seorang advokat di Cikampek, Elyasa SH, mengumbar kebencian terhadap Jokowi dengan menulis utang negara 5.000 T tadi. Tohir, seorang da’i di Lampung – teman Elyasa di Yogya – melakukan hal sama. Indonesia, menurutnya, akan bangkrut di tangan Jokowi karena utang yang sundul langit.

Benarkah demikian ?

Peter F. Gontha, pengusaha sukses – pendiri RCTI, SCTV, Berita Satu, Indovision, dan First Media – menyodorkan data dan fakta bahwa Indonesia di era Jokowi tidak akan bangkrut bahkan akan melejit perekonomiannya, karena Jokowi bukan penumpuk utang. Malah, dialah Presiden yang menurunkan utang Indonesia.

Gontha, di awal tulisannya, menyebutkan: Di dunia ini, ada tiga negara yang terancam bangkrut pada 2018 karena krisis moneter, yaitu: Turki, Venezuela, dan Malaysia.

Seperti dilansir Reuters, Menteri Keuangan Malaysia Lim Guang Eng menjelaskan, total utang Malaysia mencapai 1.087 triliun ringgit (sekitar Rp3.500 T) pada 31 Desember 2017. Konon, utang tersebut berhilir pada kasus mega korupsi mantan Perdana Menterinya (PM) Najib Razak beserta istrinya.

Nasib perekonomian Negeri Jiran pun di ujung tanduk. Warga Malaysia membuat gerakan aksi melunasi utang dengan cara iuran atau patungan. Ini dilakukan melalui sebuah situs crowdfunding. Di samping itu, PM Mahathir Mohamad memotong gaji para Menteri dan anggota parlemen seluruh negara bagian sebesar 10% untuk mengurangi utang yang mencapai 1.087 T Ringgit itu.

Betul. Utang Indonesia lebih besar dari Malaysia. Berdasarkan laporan Bank Indonesia, pada akhir April 2018, jumlah utang luar negeri (ULN) berada di angka 356,9 Miliar USD. Sekitar Rp5.000 T.

Pertanyaannya: Kenapa Malaysia terancam bangkrut, sementara Indonesia tidak? Demikian pertanyaan Gontha. Pria yang mendapat julukan “Rupert Murdoch” Indonesia (karena memiliki media massa) itu, menjawab sendiri pertanyaannya.

Menurut Gontha – hal itu terjelaskan dari rasio utang negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Utang Malaysia memang hanya Rp3.500 triliun. Tapi rasionya terhadap PDB lebih dari 60%. Sebaliknya Indonesia, meski berutang hingga Rp5.000 T, namun rasio utangnya terhadap PDB hanya 29%.

“Dengan rasio utang yang lebih dari 60% PDB, Malaysia akan sulit membayar cicilan utangnya. Hal ini akan membawa efek berantai kondisi moneter Malaysia,” tulis mantan akuntan di City Bank New York itu.

Tahun-tahun sebelumnya Malaysia jarang sekali punya utang lebih dari 300 Miliar Ringgit. Utang yang mencapai 1.087 Triliun Ringgit itu terjadi akibat dugaan kasus korupsi di 1MDB (1 Malaysia Development Berhad). 1MDB adalah semacam BUMN yang didirikan mantan PM Najib Razak untuk menghimpun dana pembiayaan proyek infrastruktur Malaysia.

Turki nyaris bangkrut karena pemborosan dan salah kalkulasi, sedangkan Venezuela bangkrut karena dulu, di zaman Hugo Chavez terlalu meninabobokan rakyatnya dengan subsidi macam-macam yang berasal dari petro dolar.

Akibatnya, ketika harga minyak jatuh, negeri itu pun ambruk. Keuangan negara ambles. Rakyat marah karena harga-harga melejit. Dunia internasional tak mempercayainya lagi.

Indonesia Hebat!!

Tulis Gontha: Ada yang salah dari kritik oposisi terhadap utang pemerintah. Mengapa? Karena cerita balutan utang yang dikritik oposisi hanya menekankan kata “utangnya saja” tanpa penjelasan komprehensif. Oposisi hanya mengkritik sisi kritisnya, sedangkan sisi prospeknya disembunyikan.

Soal utang negara, tulis Gontha, sepanjang pemerintahan Jokowi tercatat sekitar Rp1.644,22 T. Bila utang Era Jokowi tadi ditambah dengan utang Era SBY (sampai tahun 2014 sebesar Rp2.608,8 T), memang jumlahnya besar sekali. Per-Juli 2018, tercatat Rp4.253,02 T.

Jadi, utang Jokowi hanya Rp 1.644,22 T. Tapi oposisi mengangkatnya menjadi Rp5.000 T. Padahal, jika cermat hitung-hitungannya, utang Jokowi jauh lebih kecil dibanding utang SBY.

Pertanyaan berikutnya – tulis Gontha – manfaat apa yang dirasakan rakyat dari utang Era Jokowi?

Ini Jawabannya

Pembangunan I infrastruktur secara massif di seluruh Indonesia! mulai infrastruktur air, pertanian, listrik, BBM (satu harga), dan jalan raya. Semua wilayah terisolasi dibuka. Jokowi membuka gerbang konektivitas seluruh nusantara. Mulai dari wilayah terpencil, termasuk perbatasan (dengan negara lain), dan wilayah terdepan di pulau-pulau kecil di tengah Samudera Hindia dan Pasifik.

Tak hanya itu. Ada yang luput dari perhatian publik. Jokowi selain menambah utang, juga membayar utang yang jumlahnya cukup besar.

Total utang jatuh tempo dari 2014 (Era SBY) hingga 2018 (Era Jokowi) yang dibayar pemerintah mencapai Rp1.628 T. Utang yang dibayar ini merupakan pinjaman dan surat berharga negara (SBN).

Pada tahun 2014 Pemerintahan Jokowi membayar utang jatuh tempo Rp237 T. Tahun 2015 sebesar Rp226,26 T. Tahun 2016 sejumlah Rp322,55 T. Tahun 2017 sebesar Rp350,22 T. Bahkan tahun 2018 di tengah isu miring, Jokowi membayar utang senilai Rp492,29 T.

*Jokowi berutang Rp1.644 T, tetapi mampu membayar utang Rp 1.628 T. Artinya, utang Jokowi sejatinya cuma Rp16 T dalam 4 tahun kepemimpinannya.*

Bandingkan dengan utang tinggalan SBY selama 10 tahun yang mencapai Rp2.608.8 Triliun.

Mengapa Era SBY utangnya demikian besar? Karena untuk menyubsidi BBM Rp300 Triliun/tahun. Belum lagi rente yang dicatut broker minyak Petral di Singapura. Kedua kanker tersebut telah dipotong Jokowi.

Gontha – akuntan handal lulusan Praehap Institute di Belanda itu bertanya, apakah hal itu bisa disebut gali lubang tutup lubang? Tidak. Hanya pebisnis anak papi dan mami yang menyatakan pemerintah berutang untuk gali lubang tutup lubang – tulis mantan Vice Presiden American Express Bank Asia yang mulai berbisnis dari bawah itu.

Jokowi, sebelum jadi presiden adalah pengusaha handal. Ia bukan pengusaha rente. Bukan pengusaha papa minta saham.

Hidup dalam berbisnis, tulis Gontha, perlu modal. Dan modal didapat dari utang. Dengan berutang, pelaku bisnis bisa membeli aset, atau alat penggerak usaha. Hasilnya bisa untuk membayar utang.

Lihat driver gojek. Awalnya berutang untuk beli motor. Motor itu untuk ojek online (ojol). Pendapatannya dari ojol bersih, katakan antara Rp5 – 8 juta sebulan. Ia bisa menghidupi anak istrinya dan melunasi cicilannya. Motor pun kemudian jadi aset sang driver.

Itu pula yang dilakukan negara. Asal kalkulasinya cermat, utang itu akan terbayar dan negara punya aset. Hebatnya lagi, tidak seperti motor yang nilai intrinsiknya terus turun dari tahun ke tahun. Jalan tol, pelabuhan, bendungan, dan bandara nilai intrinsiknya makin lama makin mahal. Negara pun berlimpah aset berharga. Kaya!

Jokowi selama 4 tahun mampu membayar utang Rp1.628 Triliun. Jokowi berjanji tidak akan menambah utang lagi, khususnya utang luar negeri berbasis USD. Jokowi juga menginginkan semua pembangunan infrastruktur rampung secepatnya. Artinya, infrastruktur tersebut segera menghasilkan uang.

Kalau dalam 4 tahun Jokowi bisa membayar Rp1.628 triliun. Lalu setiap tahunnya pendapatan negara meningkat karena infrastruktur yang dibangunnya telah menghasilkan uang, maka besar kemungkinan Indonesia bisa membayar utang lebih besar dari angka jatuh tempo sebelumnya.

Bila itu terjadi, tulis Gontha (akuntan kaliber internasional), sekitar 10 tahun lagi, Indonesia akan bebas utang. Wow..!! Bila tercapai, Indonesia akan tumbuh menjadi negara kuat dan makmur. (Sumber: KAGAMA)

PDIP dan Harimau Jokowi

ADA APA DENGANMU PDIP?

Oleh: Saiful Huda Ems.

Partai pemenang rasa oposisi. Begitulah kira-kira kata yang pas untuk menggambarkan situasi politik saat ini di tubuh partai pemenang PEMILU 2014 dan 2019, yakni PDIP yang telah sukses menempatkan Jokowi sebagai Presiden RI selama dua periode.

Maestro debator PDIP Adrian Napitupulu mendadak dipanggil ke istana oleh Presiden Jokowi (Jum'at 12 Juni 2020) siang ini, untuk keperluan apa? Tentu kalau boleh penulis menebaknya, yakni sehubungan dengan kritik-kritik keras dan tajam Adrian yang akhir-akhir ini ditujukan untuk Pemerintah wabil khusus Menteri BUMN Erick Tohir.

Adrian sebagaimana pengakuannya sendiri merupakan sekrup kecil dari kampanye besar tim sukses Jokowi, mulai dari pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI hingga sebagai Capres RI 2014 dan 2019 lalu. Dan ia sangatlah pasti tidak akan berani bicara bersebrangan dengan Megawati penguasa PDIP. Maka suara Adrian dapat dipastikan merupakan suara Megawati atau suara PDIP.

Perseteruan antara Adrian dan Erick Tohir ini mau tidak mau, suka tidak suka akan melibatkan Presiden Jokowi juga. Dan ketika Erick Tohir sebagai menteri merupakan pembantu Presiden, maka perseteruan antara Adrian dan Erick merupakan perseteruan antara PDIP dengan Presiden Jokowi. Prihatin sekali bukan?.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa BUMN selama puluhan tahun telah dijadikan medan jarahan utama elit-elit Parpol, dan ketika Presiden Jokowi melalui Erick Tohirnya ingin membersihkan mafia-mafia di dalamnya, mungkinkah Jokowi mulai diserang, bahkan oleh partai pengusung pencapresannya dan mantan tim suksesnya sendiri?.

Apakah karena ada makelar-makelar politik parpol yang selama ini ditugaskan menjarah di BUMN yang akan dan sudah terkena tendangan Jokowi melalui Erick hingga PDIP meradang? Ataukah hanya masalah perbedaan sudut pandang mengenai pengelolaan BUMN saja, hingga perseteruan ini bisa terjadi?

Jika persoalan yang sesungguhnya hanyalah masalah perbedaan sudut pandang mengenai pengelolaan BUMN, kita sebagai rakyat harus berani mengapresiasinya, karena ini sebuah pertanda Jokowi dengan partai pengusungnya yakni PDIP telah mengajarkan tentang berdemokrasi yang indah, dimana setelah jadi Presiden loyalitas ke partai pengusungnya berhenti dan berganti ke rakyat, hingga Presiden tak segan-segan memilih jalan yang berbeda dengan kemauan partainya.

Namun jika sebaliknya yang terjadi, yakni perseteruan baru ini muncul dikarenakan adanya pihak-pihak (elit parpol PDIP) merasa tersakiti karena adanya pembersihan mafia di BUMN dan mereka kena dampaknya, kita sebagai rakyat harus berani bertanya pada PDIP, ada apa denganmu?. Meski demikian tentu untuk sementara kita sebagai rakyat harus bisa berprasangka baik terlebih dahulu pada keduanya, sebelum fakta baru kita temukan nantinya, sesungguhnya yang benar terjadi itu bagaimana.

Keadilan tidak memandang kamu siapa tapi kamu berbuat apa. Dan sampai kini kita belum tau percisnya, Erick atau kader-kader PDIP yang bandel pada instruksi Presiden, atau Presiden itu sendiri yang sudah tidak fokus bekerja hingga kabur wawasan kerakyatannya dan "diinterupsi" oleh partai pengusungnya.

Sabar...mari kita tunggu jalannya peristiwa politik mutakhir ini sampai akhir. Jangan kemana-mana, tetap loyal dan setia pada Pancasila dan Konstitusi Negara serta NKRI. Jangan mudah terhasut dan terbawa makelar-makelar politik Kadrun yang sudah siap mengganti Pancasila dengan Sistem Khilafah. Tetap lindungi Pemerintahan Jokowi, namun jika sudah terlihat melenceng ya mari kita ingatkan bersama. Kritik itu sehat, makar itu harus disikat !...(SHE).

12 Juni 2020.

Saiful Huda Ems (SHE). Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI.

Ideologi Extrim Yang Berbahaya.


Berikut negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir:


1. Mesir
Dibubarkan: 1974
Alasan: Terlibat upaya kudeta

2. Suriah
Dibubarkan: 1998
Alasan: Dilarang melalui jalur ekstra yudisial

3. Turki
Dibubarkan: 2004
Alasan: Organisasi teroris

4. Rusia
Dibubarkan: 2003
Alasan: Organisasi teroris

5. Jerman
Dibubarkan: 2003
Alasan: Penyebar propraganda kekerasan dan anti semit Yahudi

6. Malaysia
Dibubarkan: 2015
Alasan: Dianggap kelompok menyimpang

7. Yordania
Dibubarkan: 1953
Alasan: Mengancam kedaulatan negara

8. Arab Saudi
Dibubarkan: Era Abdulaziz
Alasan: Ancaman negara

9. Libya
Dibubarkan: Era Moamar Khadafi
Alasan: Organisasi yang menimbulkan keresahan

10. Pakistan
Dibubarkan: 2016
Alasan: Dianggap ancaman negara

11. Uzbekistan
Dibubarkan: 1999
Alasan: Menjadi dalang pengeboman di Tashkent

Ketika Susah

*Ketika Susah*

Ketika keadaan susah, apa apa jadi begah, kebijakan apapun jadi salah, banyak mulut nyinyir, meluncur bebas tanpa bisa dicegah.

Sekarang ini jamannya jaman demokrasi susah, kata ganjar pranowo para pemimpin letaknya di bawah, ditanah harus rela di injak2 terompah.

Ketika Jepang sengsara karena kalah, Hirosima luluh lantak, bahkan ekosistem kehidupan terkecilpun punah.

Para ahli barat memperkirakan karena terpapar radioaktif perlu 70 th untuk mengembalikan unsur hara tanah, namun di musim semi tahun pertama pendapat ahli terbantah.

Ternyata bunga2 oleandersan tumbuh subur, dahan dan ranting menyeruak dari tanah, bunga bunga di musim semi mulai merekah.

Dari situlah bangsa jepang mengambil hikmah, bahwa ketahanan dan kekuatan untuk hidup dan berkembang di contohkan oleh bunga oleander san yg kemudian dijadikan bunga semangat, pantang menyerah.

Ketika Korea selatan luluh lantak akibat perang saudara, bahkan rakyatpun harus antri Kimchi yg dijatah pemerintah.

Namun lihatlah kini Korea semua sudah berubah, rakyat bahu membahu dg pemerintah.

Pembangunan manusia sampai budaya jauh sudah melangkah, bahkan gangnam sampai drama korea menjadi primadona para tuan dan nyonyah.

Sementara itu di negeri antah berantah, ketika keadaan susah, rakyatnya disibukkan dg aksi saling berbantah.

Tunjuk hidung saling asah salah, keadaan gelap, bukan menyalakan lilin namun menyalahkan PLN (perusahaan lilin negara).

Sementara itu hiburan yg dicari adalah drama keributan keluarga, yang dibaca dan di forward kesana kemari adalah tragedi krisdayanti vs aurel Hermansyah.

Lalu apakah negara antah berantah itu akan menyerah. Yo mbuh lah.

Yg jelas bukan di negeriku. Karena dinegeriku hanya ada satu semboyan *pantang menyerah*

Kasongan 9 jun 2020
Wiw

Friday, 22 May 2020

Parawisata Di Era Baru


*Pariwisata di Era Baru At New Normal*

Krisis kesehatan masyarakat atau Pandemi Covid 19 yang sedang melanda masyarakat di seluruh dunia ini adalah krisis multidimensi yang pengaruhnya luar biasa, bukan saja membuat struktur sosial ekonomi mengalami guncangan _”bermagnitudo”_ mega namun sekaligus juga menantang warga dunia untuk keluar dari krisis dengan selamat.

Presiden Jokowi dalam pernyataan beberapa hari yang lalu meminta masyarkat Indonesia berdamai dengan virus corona selama belum ditemukan vaksin. Hal ini adalah selaras dengan pernyataan dari organisasi kesehatan dunia WHO, karena ada potensi dari virus ini tidak akan segera menghilang dan tetap ada di tengah masyarakat.

Berdamai dengan virus corona ini adalah hidup berdampingan dengan virus corona tapi bukan berarti meminta masyarakat menyerah namun sebaliknya justru bentuk dari penyesuaian itu sendiri. Hal ini menjadi titik awal dari kehidupan baru agar masyarakat menjalani kehidupan sambil menerapkan protokol pencegahan virus corona. Dalam hal ini juga meminta masyarakat untuk _realize_ dengan keadaan hidup ditengah wabah dalam konsep tatanan kehidupan baru atau _new normal_.

Dalam tata kehidupan baru atau at new normal, tentunya seluruh warga dunia ikut berfikir bagaimana memulihkan keadaan, yang mungkin akan di dilaksanakan secara bertahap sebagai tanggapan terhadap kondisi yang berkembang. Demikian halnya dengan sektor pariwisata yang saat ini juga juga tengah berfikir langkah-langkah efektif apa yang bisa memerangi wabah sekaligus mendapatkan kembali kinerja ekonomi pariwisatanya.

Industri pariwisata adalah _umbrella industry_ yang memayungi banyak sektor diantaranya adalah hotel, akomodasi, kegiatan layanan makanan dan minuman, tranportasi wisata, travel agen, kegiatan budaya, kegiatan olahraga dan hiburan. Industri pariwisata juga sangat terhubung erat dengan sektor pendidikan, keuangan, pertanian, medis, konstruksi, real estat, ritel, dan lain sebagainya.

Untuk itu upaya pemulihan harus dilakukan secara bertahap, paralel dengan pemulihan sektor-sektor lain, dengan demikian langkah-langkah yang diusulkan harus terintregasi dengan semua sektor. Semua itu dilakukan untuk  memastikan keselamatan bagi para wisatawan maupun tenaga pariwisata dan hal ini haruslah menjadi perhatian utama para pemangku kepentingan industri pariwisata.

Beberapa faktor yang penting untuk sekarang ini dipikirkan adalah masalah _time, cost and people_. Terkait dengan waktu haruslah benar-benar di perhitungkan kapan destinasi wisata akan di buka, sedangkan untuk masalah biaya adalah mengantisipasi kalkulasi biaya di perlukan dengan adanya protokol kesehatan dan variabelnya yang bergerak dinamis sesuai dengan tuntutan di era new normal.

Sementara untuk faktor manusia adalah perlunya menyiapkan SDM yang memahami standar protokol kesehatan. SDM di industri pariwisata harus mampu mengikuti perubahan-perubahan perilaku wisatawan yang berkaitan dengan new era yang terutama fokus perhatian terhadap kebersihan, kesehatan dan keamanan.

Sebenarnyalah dengan kejadian pandemi virus corona ini juga memunculkan kreativitas masyarakat dengan menggali kearifan lokal. Seperti penyediaan tempat cuci tangan di depan rumah atau tempat-tempat umum (area publik) berupa gentong _padasan_ yang hakekatnya kebiasaan tersebut telah dilakukan oleh masyarkat Indonesia dari jaman dahulu kala.

Sudah sejak lama masyarakat nusantara mengaplikasikan daun sirih sebagai densifektan yang efektif. Bahkan Ilmuwan dari Universitas Gajah Mada telah mengembangkan produk hand sanitizer berbahan daun sirih yang dikembangkan dengan tenologi nano dan bebas alkohol.

Salah satu wujud kearifan lokal dari masyarakat Nusantara adalah menjaga kesehatan tubuh dengan mengolah dan mengkonsumsi daun-daunan, biji-bijian, umbi-umbian, rimpang, bunga dan buah-buahan bahkan dari kulit pohon yang semuanya di ambil dari alam Nusantara, sebagai contoh adalah produk jamu wedang uwuh yang terbukti bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

Dari ketiga contoh kearifan lokal diatas apabila di terapkan di tempat-tempat wisata, hotel maupun tempat-tempat publik secara masal maka akan terjadi dampak berganda pada ekonomi masyarakat yang luarbiasa, sebagai contoh UKM Kasongan, Bantul sebagai sentra industri gerabah akan bangkit, begitu juga dengan UKM-UKM di Imogiri Yogyakarta sebagai pelestari wedang uwuh tentunya akan bergairah kembali, demikian juga dengan produk hand sanitizer dari daun sirih.

Seperti yang di ungkapkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio, bahwa diperkirakan akan terjadi lonjakan kinerja di sektor pariwisata setelah pandemi ini berakhir.  Sebaiknyalah keoptimisan menteri pariwisata tersebut menjadi keoptimisan kolektif bagi seluruh insan pariwisata.

Karena bangsa Indonesia bukanlah bangsa pecundang, yakinlah kita BISA melalui badai ini, sebagaimana semangat gerakan pariwisata masyarakat Bali saat ini, yakni dengan semboyan *BALI BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Aman)*

Wahyu I Widodo
Kasongan 19/05/2020
*JOGJA HEBAT (HigiEnis, Bagus, Aman & Tenteram)*

Tuesday, 12 May 2020

Data Bansos Dikacaukan,Gabeneeer



DATA BANSOS DKI SENGAJA DIKACAUKAN

by Eko Kuntadhi

Saya tidak tahu, apa sebetulnya yang ada di kepala Gubernur. Ketika dia terus menerus merongrong pusat dengan manuvernya, padahal Indonesia sedang menghadapi bencana.

Mulanya pada rapat terbatas online yang melibatkan kepala daerah. Presiden memimpin langsung rapat itu. Diputuskan pemerintah akan membantu masyarakat yang terdampak Covid19. Saat ditanya Gubernur Jakarta, berapa jumlah warga DKI yang terdampak. Gubernur dengan tegas menyebut angka 3,6 juta orang.

Lalu pada rapat itu diputuskan, pemerintah pusat akan mengcover 2,5 juta orang yang terdampak. Sisanya 1,1 juta orang akan dihandle oleh Pemda DKI. Masing-masing akan mendapat bantuan Rp600 ribu selama tiga bulan.

Artinya jika program tersebut jalan, ada 1,2 juta KK yang akan mendapat bantuan. Sebagian besar dari pemerintah pusat, sisanya dari kas Pemda DKI.

Pemerintah pusat tinggal menunggu data dari Pemda DKI untuk menyalutkan bantuan. Saat data itu diterima Kemensos, bantuan langsung bergerak disalurkan.

Sebelumnya Pemda DKI juga sudah menyalurkan bantuan ke warga dengan paket seharga Rp149.000. (Ketika dihitung, harganya sih cuma Rp108 ribuan). Tapi, mungkin saja plus ongkir dan paking. Kok hanya Rp149 ribu? Katanya akan dilakukan seminggu sekali. Jadi jumlahnya sekitar Rp600 ribu sebulan juga.

Apa yang terjadi saudara-saudara? Ternyata data yang diserahkan Pemda DKI ke Kemensos, itu sama dengan data penduduk yang sudah mendapat bantuan dari Pemda DKI.  Ketika Kemensos membagikan bantuan sesuai kesepakatan, mereka yang sudah terima secuil bantuan dari Pemda DKI Rp149 ribu itu, otomatis akan menerima lagi bantuan dari Kemensos. Wong datanya sama.

Di bawah, masyarakat Jakarta kecewa. Betapa kacaunya proses penyaluran bantuan sosial itu.

Sialnya, menurut Kepala Kelompok Kerja Kebijakan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Elan Satriawan, Pemda DKI sengaja melakukan itu.

Kenapa data itu disamakan? Karena Pemda DKI mau mangkir dari janjinya untuk menghandle 1,1 juta warga DKI. Mereka hanya menyalurkan paket Rp149 itu sekali saja. Dalam kesepakatan empat kali sebulan. Ketika bansos dari Kemensos disalurkan, Pemda DKI malah menyetop penyaluran bantuannya.

Kan, bangke!

Pertama, Anies tidak konsisten terhadap hasil rapat. Dia menyebut 3,6 juta warga perlu bantuan, dan DKI hanya sanggup membantu 1,1 juta orang saja. Presiden percaya, karena soal data kependudukan Pemda DKI lebih memahami. Jadi disepakatilah 2,5 juta warga DKI dihandle pusat.

Nyatanya Anies mangkir. Sengaja mengacaukan data.

Menko PMK Muhajir Efendi sangat berang mengetahui itu semua. Saat ini adalah kondisi bencana. Rakyat butuh menanganan cepat. Kok bisa, Pemda DKI bermain-main seperti itu? "Saya menegur keras Gubernur Jakarta," ujar Muhajir kepada wartawan tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya.

Ternyata, saudara. Anies kini bilang Jakarta gak punya duit untuk menyalurkan bantuan yang sudah menjadi komitmennya dalam rapat kabinet itu. Menurut Menkeu Sri Mulyani, Anies angkat tangan dari komitmennya semula.

Anies memainkan isu lain. Ia menagih dana bagi hasil ke Menkeu, sambil gembar-gembor pemerintah pusat berhutang kepada Pemda DKI. Padahal, dana bagi hasil itu gak perlu ditagih. Sesuai UU, akan dikeluarkan Menkeu ke kas Pemda, jika audit BPK sudah selesai. Sekitar Agustus biasanya.

Lha, audit BPK saja belum selesai. Entah kenapa Anies teriak-teriak seolah pusat punya hutang ke Pemda DKI, padahal kenyataanya gak begitu. Gak mungkin Kemenkeu menahan dana tersebut. Dan gak mungkin juga mengeluarkan jika audit belum rampung. Sebab itu melanggar UU.

Kayaknya manuver seperti ini bertujuan untuk memojokkan pemerintah pusat. Gerakan seperti ini membenturkan pemerintah dengan rakyat Jakarta. Padahal yang mengacaukan dia juga. Padahal yang lari dari komitmen dia juga.

Anehnya, untuk dana bansos Pemda DKI angkat tangan ngaku gak punya duit. Tapi pada Februari 2020, Pemda enteng-enteng aja mengeluarkan duit buat membayar komitmen fee balapan Formula E. Totalnya sampai Rp560 miliar.

Kini kekacauan data bansos DKI Jakarta membuat rakyat marah. Kemarahan yang sepertinya sengaja disulut.

Hanya orang jahat yang bisa mempolitisasi wabah untuk kepentingan politiknya sendiri. Hanya orang jahat yang sempat berfikir menari di atas derita jutaan orang.

"Jahatnya kan cuma sama manusia. Kalau sama hewan di kebun binatang, dia perhatian lho, mas," celetuk Abu Kumkum.

Anies Lempar Handuk


ANIES LEMPAR HANDUK

Awalnya adalah penolakan dan perlawanan terhadap Jokowi. Bagaimanapun caranya Jokowi harus turun. Bukan Presiden seperti ini yang layak memimpin sebuah negara.
Mereka paham bahwa Jokowi didukung oleh rakyat. Dengan cara terpecah dan pola serampangan, tak mungkin sebuah serangan bisa dijalankan, pasti sia-sia dan mereka, mau tak mau harus bersatu.

Rebut DKI dan jadikan Jakarta basis serangan..!
Namun masalah muncul, karena Ahok Gubernur DKI saat itu, dia sangat diterima dan dicintai warganya. Mengalahkan Ahok adalah kemustahilan.

Cari antitesa Ahok.

Ahok pemarah, cari yang kalem. Ahok kasar, pilih yang santun. Ahok China dan minoritas, cari yang paling disuka kaum mayoritas.
Abbas memenuhi semua kriteria itu, jadilah dia lawan bagi kemustahilan.
Selain memenuhi kriteria tersebut, ternyata Abbas juga pribadi "yang sempurna" untuk ditampilkan sebagai "korban penzoliman" seorang Presiden. Orang baik yang dipecat, begitu kira-kira asumsinya.

Secara teori, kemustahilan hanya akan kalah bila dilawan dgn ketidak laziman. Maka agama, ayat dan mayat sebagai "politik identitas" dihadirkan sebagai lawan tanding yang seimbang bagi kemustahilan tersebut dan..,ternyata sukses..!!

Jakarta telah direbut. Pusat telah dikuasai.

Dua tahun sudah Jakarta dibuat seolah kacau agar kredibilitas sang Presiden petahana, mendapat image negatif dan itu menjadi keuntungan bagi sang penantang, yang tidak lain adalah boss besarnya.
Secara mengejutkan, boss besar justru bergabung dengan pemerintah setelah kekalahannya dalam pilpres.

Kacau balau tim hore terjadi tanpa dapat dicegah. Mereka seperti buta tak miliki pegangan.
Seolah tak ada SOP pasti, bagaimana seharusnya sebuah konsep dijalankan. Jadilah abbas mercu suar ditengah gelombang ketidak pastian itu. Dia menjadi cahaya acak,  atas sebuah arah tak jelas yang harus dituju. Dia didaulat menjadi boss baru ditengah kebingungan.

Pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan Jakarta adalah epicentrum. Secara tak terduga Jakarta menempati posisi dengan korban terbanyak. Kepemimpinan sang Gubernur terpilih,  diuji.

Dua bulan sudah dia mencoba memimpin pertempuran itu.

Gaya memimpin pertempuran yang aneh, dengan lebih banyak konferensi pers daripada bertindak, tak harus kita buat cacian.
Ujian bagi kepemimpinan yang sesungguhnya telah tiba. Totalitas dan kesungguhan hati seorang pemimpin dituntut hadir.
Jiwa kepemimpinan akan menemukan takdirnya disini. Dan..,dia menyerah...🤕

Abas melemparkan handuk didepan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.
Dia bilang, DKI tak lagi punya uang untuk Bansos sebanyak 1,1 juta jiwa yang menjadi tanggung jawab DKI.

Beruntung Menteri Keuangan Sri Mulyani cepat tanggap. Dengan sigap dia bergerak sesuai SOP dan arahan Presiden  "Tutup semua...!! ga usah ribut, utamakan rakyat..!.”

Abbas menyatakan diri KO. Dia menyerah, karena tak sanggup memberikan Bansos bagi 1.1 juta jiwa warga DKI yang menjadi tanggung jawabnya. Padahal di awal tahun 2020 dengan bangga dia pernah meng-claim, sudah menurunkan jumlah penduduk miskin di Jakarta dari 3.78% menjadi tinggal 3.42% , yang artinya berjumlah 376.200 jiwa. (Penduduk Jakarta 11 juta)

Kemudian ketika dia butuh bantuan untuk warganya akibat Covid-19, melalui tele conference dengan Wapres, dia bilang warga miskin telah menjadi 3.7 juta jiwa.
Pada akhirnya negara telah sepakat dengan angka 4.7 juta jiwa, Pusat memberi bantuan kepada 3.6 juta jiwa dan DKI akan membantu bagi 1.1 juta jiwa sisanya, clear kesepakatannya.

Dan ternyata, tanpa menunggu lama, untuk bagian DKI yang 1.1 juta jiwa inilah Abbas menyerah dan lempar handuk. Dia hanya bilang sudah tidak ada uang lagi.

Tidak ada cash flow.

Alasan tak ada cash flow adalah cara agar negara segera membayar kelebihan Dana Bagi Hasil sejumlah Rp 5.1 triliun yang seharusnya baru akan keluar setelah BPK melakulan audit.

Demi kemanusiaan Menteri Keuangan tanpa menunggu audit BPK pada pertengahan April telah mengeluarkan 50% permintaan tersebut.
DKI telah menerima Rp 2.56 T. DKI seharusnya punya dana Bansos bagi 1.1juta jiwa tersebut, namun..........?

DKI dengan predikat Propinsi paling kaya dengan APBD hingga Rp 90 triliun tak mampu memberi makan warganya yang sedang kelaparan padahal disisi lain negara/pusat sudah mengalah dalam banyak hal.

Disinilah makna kepemimpinan menemukan kejanggalannya.

Jakarta tak memiliki sosok Gubernur yang dapat menjadi pemimpin. Ada sebuah kejanggalan mengapa ibu kota bukan dipimpin oleh seorang yang capable.
Ya.., Abbas sedari awal memang bukan dipersiapkan menjadi seorang pemimpin.

Dia dimajukan karena sebuah alasan politis. Dia maju karena tugasnya adalah menjungkalkan Gubernur petahana. Dia bukan pemimpin. Dia hanya proxy bagi kepentingan yang lebih besar.

"Kalau memang benar sudah lempar handuk, kenapa ga mundur saja?"

Mundur bukan budaya kita, janjian jam 2 datang jam 4 itulah kebiasaan kita...😁
Melalui Mensos, Menteri Keuangan telah memerintahkan adanya audit atas Bansos yang sudah dilakukan oleh DKI.

Bagaimana selanjutnya, hukumlah yang akan berbicara sesuai koridornya.

Melalui pandemi ini, kita disuguhi banyak kisah dari banyak pemimpin daerah, yang mencoba berdiri menjadi Panglima di daerahnya masing masing. Disana ada kegagalan, disana juga ada cerita gemilang, tentang keberhasilan seorang kepala daerah. Dari sanalah nanti akan muncul sosok yang pantas kita jadikan jagoan pada 2024 nanti.

Para pecundang akan tiarap dan tergilas, sementara sang pemenang akan mendapatkan jalannya. Wallahualam

CATATAN /sumber : Tulisan/ utas
Dari Nita ..mv lestari
edit : Dachyar Patria Pattiapon

#SalamBasudaraIndonesia

Saturday, 9 May 2020

Perang Nikel di Dunia

PERANG NIKEL
Bulan Januari 2020, di Indonesia keluar peraturan baru yang mengguncang dunia. Peraturan itu berbunyi, "Dilarang ekspor biji nikel keluar negeri".

Peraturan itu jelas membuat sebagian negara kelabakan, terutama Eropa. Eropa yang banyak bergantung pada industri baja dengan biji nikel sebagai salah satu unsur pentingnya, merasa dirugikan Indonesia.

Pabrik-pabrik mereka bisa tutup, dan sebelum itu terjadi mereka menggugat Indonesia ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO.

Kebijakan ini datang dari Luhut Binsar Panjaitan, Menko Kemaritiman dan Investasi. Opung Luhut melihat bahwa Indonesia selama bertahun-tahun dirugikan dengan dikeruk sumber daya alamnya, tapi tidak mendapat apa-apa.

Nikel boleh diekspor, kalau sudah diolah di dalam negeri. Karena itu, perusahaan yang membutuhkan nikel harus membangun smelter disini. Dan itu berarti mereka harus investasi triliunan rupiah.

Sebenarnya, yang terkena dampak paling besar pelarangan ekspor mentah biji nikel bukan Eropa, melainkan China. Menurut Luhut, 98 persen biji Nikel selama ini diserap China.

Cuma China adalah negeri pedagang. Mereka tahu, daripada ribut kayak Eropa, mendingan taro duit di Indonesia. Dan investasi besar pun masuk ke negeri ini.

Pembangunan smelter itu tidak mudah. Teknologinya belum semua kita kuasai. Karena itu, China selain mengirimkan uang juga mengirimkan orang. Inilah yang selalu menjadi isu kalau TKA China menguasai negeri.

Padahal, masuknya TKA China sebenarnya sekalian pengalihan teknologi. Kelak, kalau Smelter dengan investasi puluhan triliun rupiah itu jadi, maka berbondong-bondong tenaga kerja Indonesia terserap untuk bekerja. China hanya menyiapkan pondasinya saja..

Cuma ya itu..

Karena ada negara yang marah sebab biasanya dapat nikel murah, mereka lalu menghembuskan isu melalui tentakel mereka di Indonesia. "Ssst, China akan menguasai ekonomi Indonesia.." begitu bisik mereka.

Kelompok negara kaya itu tahu, bahwa Indonesia pernah punya sejarah panjang akar konflik dengan etnis China. Karena itu mereka telaten mengipasi isu itu sedikit demi sedikit, supaya kelak apinya membesar.

Apalagi dengan adanya perang dagang AS versus China, maka isu itu menjadi penting. Ini mirip dengan situasi pada masa perang dingin, dimana dua blok besar dunia Barat dan Timur, saling berebut pengaruh.

Dari gambar besar ini, kita seharusnya paham, kenapa LBP sekarang selalu diserang. Karena dialah sekarang lokomotif Jokowi dalam menuju konsep Indonesia maju.

Seperti kata seorang teman, "Indonesia itu matahari baru. Minyak bumi sudah habis, ke depan semua teknologi akan pakai listrik. Dan nikel Indonesia akan merajai dunia.."

Seruput kopinya.

Denny Siregar to

Thursday, 7 May 2020

Gabener DKI Sunat Bansos ?

Pusat Beri Santunan Tenaga Medis 300 Juta, Di Najwa Anies Sunat Jadi 242 Juta, 58 J Ilang


Mata Najwa Shihab harus cuti dulu dari acaranya di Mata Najwa karena terus menggelar panggung pengibulan buat Anies Baswedan, Gubernur DKI yang dijuluki ‘Goodbener’ itu aslinya Terbodoh dan Pembohong se-Indonesia dan sejagat.

Tapi sangat disesalkan Najwa memberi kembali panggung pembohongan dan si presenter yang cerdas ini ikut mengiayakan serta turut memviralkan pengibulan Anies. Najwa tetap menutup mati dan malah hanya memberi tempat buat ABas alias Anies Baswedan menampilkan klaim palsu yang menjijikkan. Gubernur paling absurd dan diklaim Gubernur Keren itu sebenarnya paling kere!

Kere karena sudah secara telak dibongkar oleh si Ibu Sri Mulyani kalau si Anies tak punya uang untuk penyediaan bansos buat warganya. Sudah tiga menteri yang menempelak si Anies tapi dia terus kebal muka dan tebal lidah untuk mengklim segala bantuan dari Pusat itu untuk didompleng sebagai programnya. Sudah begitu masih disunat pula!

Jadi di acaranya si Najwa, Anies kembali menggelar panggung pembohongan berjamaah. Lewat tayangan di TransTV, Anies berkoar seolah peduli. Celakanya portal radikal bersama buzzer ngehek paling tolol sedunia yaitu si Piyuuu ikut memviralkan di akunnya.

Barakallah... @aniesbaswedan: Nakes Meninggal, Santunan Rp 242 Juta dan Semua Anak dapat Beasiswa sampai Selesai Kuliah

Penulis akan membongkar dan membeberkan seabrek bukti bahwa Anies sendiri tak bisa dipercaya untuk mengeluarkan dari kas Pemprov untuk uang santunan itu.

Pertama, untuk hal sepele, janji memberi uang bantuan sebesar Rp 1 juta saja si Anies mangkir. Maksudnya, untuk urusan hal sepele saja dia ingkar janji apalagi uang santunan yang ratusan juta rupiah tersebut.

Kedua, urusan bansos DKI juga sudah dibongkar oleh si Bu Sri Mulyani kalau si Anies tak punya uang. Bahkan Anies sendiri melempar ke Pusat untuk urusan bantuan ke warganya sendiri. Samapi pak Juliari sebagai Mensos ikut berperan dan kerja keras untuk mengambil alih tugas si Gubernur ngawur tersebut!

Ketiga, fakta ini akan membongkar semua tipu-tipu si Anies. Pusat sudah menyediakan anggaran untuk para petugas medis termasuk bulanan dan sampai santunannya. Jadi daerah tinggal menyalurkan.

Jadi Pemerintah sudha mengalokasikan anggaran yang akan diperuntukkan sebagai insentif bagi tenaga medis sebesar Rp5,9 triliun. Rinciannya, tenaga medis pemerintah pusat akan mendapat Rp1,3 triliun sementara sisanya Rp4,6 triliun diberikan untuk tenaga medis pemerintah daerah.

Lalu, dokter spesialis akan mendapatkan Rp15 juta setiap bulannya, dokter umum Rp10 juta per bulan, perawat 7,5 juta/bulan, dan tenaga kesehatan lainnya Rp5 juta/bulan.

Nah, untuk santunan kematian kepada keluarga tenaga medis diberikan sebesar Rp300 juta. Pemerintah juga menjamin adanya santunan kematian tenaga medis sebesar Rp300 miliar, dengan estimasi pemberian santunan sebesar Rp300 juta/orang.

Luar biasa kan perhatian Pemerintah Pusat. Jadi uang santunan yang diberikan Anies itu sebenarnya berasal dari Pusat. Lalu sudah nebeng santunan dari Pusat tapi malah dengan tega disunat atau didiskon, dari sebesar Rp 300 juta hanya tinggal Rp 242 juta. Jadi sebesar 58 juta hilang cuy.

Luar biasa benar si Anies yang turut memberi pengibulan yang masif di DKI. Sampai presenter yang katanya cerdas itu hanya bisa mengangguk antara kagum dan percaya. Padahal kayak Najwa nggak tahu saja sejarah dan jejak digital pengibulan si Anies kayak apa.

Sebenarnya penulis masih berharap, Najwa sebagai presenter yang cerdas dapat mengkritisi kebijakan Anies. Tapi nyatanya yang dikritisi Najwa malah Pemerintah Pusat. Padahal banyak keganjilan dan kejanggalan yang sudah terjadi di DKI Jakarta.

Tapi apa boleh buat, Najwa tak peduli dengan segala pembohongan yang dilakukan Anies baik secara publik maupun di depan influencer macam DC, pendeta penjilat Anies si Gilbert Lumoindong plus Ustad Aagym. Komplit, dari presenter yang mengklaim smart people ikut jadi korban kebohongan Anies dan sampai sekarang si Deddy C tetap tenang-tenang saja.

Najwa kini berada di barisan buzzer Gubernur Anies untuk jadi presiden ke -2024 dalam alam mimpi mereka. Luar biasa, pembohongan masif yang masih diberi panggung oleh Najwa. Kapan tobatmu? Saya sudah lama nggak nonton acaranya najwa semenjak dia terang-terangan memberi panggung sama Anies. Bye najwa!

Begitulah kura-kura SewoRD!

Sunday, 3 May 2020

Harapan Terbaik Yang Kedua


*Prepared For The Worst But Hope For The Best (ke II)*

Suatu ketika Yudhistira sang pemimpin Pandawa yang bijaksana, harus menjawab pertanyaan terakhir dari Raksasa Yaksa sebagai syarat untuk menghidupkan kembali ke empat saudaranya yang telah di bunuhnya

Yaksa," Musuh apakah yang tidak terlihat? *Penyakit apa yang tidak bisa disembuhkan?* Manusia macam apa yang mulia dan hina?"

Yhudistira menjawab, "Kemarahan adalah musuh yang tidak terlihat. Ketidakpuasan adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Manusia mulia adalah yang mengharapkan kebaikan untuk semua makhluk dan Manusia hina adalah yang tidak mengenal pengampunan".

Ternyata jawaban bijak dari Yhudistira itu membuat sang Raksasa Yaksa puas kemudian dia menghidupkan kembali Bima, Arjuna Nakula dan Sadewa.

*
Artikel harian Kompas hari ini yang berjudul _Berkaca dari Vaksin HIV, Bagaimana Jika Vaksin Corona Tidak Berhasil Ditemukan?_ sangat menarik untuk direnungkan, karena harapan terbesar umat manusia untuk menghentikan keganasan virus ini adalah ditemukannya Vaksin Covid-19.

Dalam artikel itu disebutkan bahwa sampai dengan hari ini, para ahli dunia belum bisa menemukan Vaksin Human Immunodeficiency Virus (HIV), sehingga sampai dengan saat ini HIV telah merenggut 32 juta jiwa.

Sangat sulit untuk membayangkan bila vaksin Covid-19 gagal untuk dikembangkan dan ditemukan, maka kehidupan didunia akan sangat berbeda dengan sebelum adanya terjangan gelombang virus yang mematikan ini. Roda dunia masih akan berputar seperti biasanya namun kehidupan akan selalu di hantui dengan bayang-bayang menakutkan virus ini.

Karena virus ini tidak mengenal waktu dan tempat maka serangan kembali (second wave) bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, sedangkan manusia dalam hal ini pemerintahan di seluruh dunia ini akan disibukan dengan tes swab, pelacakan kontak, Social Distancing,  PSBB, Lockdown dan lain sebagainya.

Saya akan sedikit menyingung tentang kemungkinan yang terjadi di dunia pariwisata, yang menurut hemat saya yang paling terdampak dari terjangan virus covid 19 ini. Seperti tulisan yang terdahulu bahwa sektor pariwisata kemungkinan akan menjadi gerbong belakangan untuk bisa recovery.

Apakah sekarang ini dinilai terlalu dini untuk membicarakan sebaiknya bagaimana menata sektor pariwisata setelah pandemi ini berakhir? Mungkin jawaban yang rasional adalah kembali keatas bahwa pandemi ini harus di akhiri dulu, sebelum membicarakan langkah-langkah pembenahan yang komprehensif dan berkelanjutan. Apalagi selama ini paradigma yang berkembang di sektor pariwisata adalah bahwa tolok ukur keberhasilan pariwisata Indonesia adalah pada jumlah kedatangan wisatawan mancanegara.

Sebagai contoh kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) bila di hadapkan dengan gelombang pandemi ini maka kebijakan ini akan kontraproduktif. Sementara negara-negara diseluruh dunia akan membatasi mobilitas manusia dengan pembatasan perjalanan international, karena mereka tidak ingin “mengimpor” kasus covid 19 baru.

Dengan alasan pertumbuhan ekonomi, mungkin saat ini beberapa negara melonggarkan pembatasan perjalanan international, dengan syarat mengantongi Covid-19 Free Certificate. Tapi justru disini permasalahannya, apakah sertificate dari negara Indonesia misalnya akan di akui oleh negara Amerika, negara-negara Eropa atau negara lain didunia, atau sebaliknya? Bagaimana dengan standar internasional untuk terbitnya sertifikat ini? Apakah WHO yang menerbitkannya? Bagaimana prosedur dan tetek bengek persyaratan lainnya?.

Belum lagi bila ditinjau dari negara yang dituju, karena negara yang dituju harus memperlihatkan kredibiltas bagaimana menangani virus covid 19. Ini bukan sesederhana tentang laporan jumlah pasien yang terjangkit, angka mortalitas, jaminan pemerintah setempat, tapi lebih kompleks daripada itu.

Kejadian pandemi corona ini mungkin adalah momentum, karena sudah saatnya pemangku kepentingan pariwisata untuk lebih memperhatikan wisatawan domestik, dengan tidak mengesampingkan pertumbuhan wisata mancanegara. Kejadian bom Bali telah memberikan contoh, bahwa ketika wisatawan mancanegara masih trauma, justru wisatawan nusantara berbondong-bondong berwisata ke Bali dan tentunya menyelamatkan perekonomian dan dunia pariwisatanya.

Sebagaimana perang Baratayuda, Yudhistira sang pemimpin Pandawa yang bijaksana telah berhasil memimpin Pandawa memenangkan perang. Untuk itu berilah kesempatan kepada para pemimpin bangsa Indonesia yang saat ini menghadapi perang melawan pagebluk korona bin candrabirawa.

Dukunglah langkah dan upaya para pemimpin bangsa Indonesia untuk menghadapi makhluk kasatmata candrabirawa covid 19 ini. Endapkanlah rasa kemarahan dan ketidak-puasanmu dalam menyorot soal kebijakan pemerintah dalam menangani kasus korona ini. Kalaulah dirasa perlu berilah saran yang santun dan kritik yang membangun karena saya yakin pemimpin kita  sang Yudhistira sedang merentang Gendewa Panah Cakra Baskara untuk memusnah makhluk kasatmata Candra Birawa bin Korona ini, enyah dari bumi Nusantara.

Wahyu I Widodo
Kasongan 03/05/2020

Tags

Recent Post