Latest News

Showing posts with label Pancasila. Show all posts
Showing posts with label Pancasila. Show all posts

Friday, 30 August 2019

Peneguhan Pancasila di Tangan Hadhratussyekh dan Gus Dur


KH Abdurrahman Wahid dan kakeknya, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari pernah sama-sama berikhtiar meneguhkan Pancasila dengan caranya masing-masing. Kiai Hasyim As’yari pada 1945 mentashih rumusan Pancasila dari Tim 9 sudah sesuai syariat Islam atau belum. Hal ini karena ada kelompok Islam tertentu yang kejelasan terminologi syariat Islam ke dalam sila Ketuhanan.

Sedangkan Gus Dur juga bersama tim perancang naskah hubungan Pancasila dengan Islam berhasil meyakinkan umat untuk mempertegas Pancasila sebagai asas tunggal organisasi pada 1984. Adapun ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim juga berhasil merumuskan Pancasila secara sistematis seperti yang kita ketahui saat ini.

Pada 1945, kelompok-kelompok Islam tertentu menilai bahwa kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa tidak jelas sehingga perlu diperjelas sesuai prinsip Islam. Akhirnya, Soekarno bersama tim sembilan yang bertugas merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945 mempersilakan kelompok-kelompok Islam tersebut untuk merumuskan mengenai sila Ketuhanan.

Setelah beberapa hari, pada tanggal 22 Juni 1945 dihasilkan rumusan sila Ketuhanan yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kalimat itu dikenal sebagai rumusan Piagam Jakarta. Rumusan tersebut kemudian diberikan kepada tim sembilan. Tentu saja bunyi tersebut tidak bisa diterima oleh orang-orang Indonesia yang berasal dari keyakinan yang berbeda.

Poin agama menjadi simpul atau garis besar yang diambil Soekarno yang akhirnya menyerahkan keputusan tersebut kepada Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari untuk menilai dan mencermati apakah Pancasila 1 Juni 1945 sudah sesuai dengan syariat dan nilai-nilai ajaran Islam atau belum.

Saat itu, rombongan yang membawa pesan Soekarno tersebut dipimpin langsung oleh KH Wahid Hasyim yang menjadi salah seorang anggota tim sembilan perumus Pancasila. Mereka menuju Jombang untuk menemui KH Hasyim Asy’ari. Sesampainya di Jombang, Kiai Wahid yang tidak lain adalah anak Kiai Hasyim sendiri melontarkan maksud kedatangan rombongan.


Setelah mendengar maksud kedatangan rombongan, Kiai Hasyim Asy’ari tidak langsung memberikan keputusan. Prinspinya, Kiai Hasyim Asy’ari memahami bahwa kemerdekaan adalah kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia, sedangkan perpecahan merupakan kerusakan (mafsadah) sehingga dasar negara harus berprinsip menyatukan semua. Untuk memutuskan bahwa Pancasila sudah sesuai syariat Islam atau belum, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan tirakat.

Di antara tirakat Kiai Hasyim ialah puasa tiga hari. Selama puasa tersebut, beliau meng-khatam-kan Al-Qur’an dan membaca Al-Fatihah. Setiap membaca Al-Fatihah dan sampai pada ayat iya kana’ budu waiya kanasta’in, Kiai Hasyim mengulangnya hingga 350.000 kali. Kemudian, setelah puasa tiga hari, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan shalat istikharah dua rakaat. Rakaat pertama beliau membaca Surat At-Taubah sebanyak 41 kali, sedangkan rakaat kedua membaca Surat Al-Kahfijuga sebanyak 41 kali. Kemudian beliau istirahat tidur. Sebelum tidur Kiai Hasyim Asy’ari membaca ayat terkahir dari Surat Al-Kahfi sebanyak 11 kali. (Sumber: KH Ahmad Muwafiq)

Paginya, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil anaknya Wahid Hasyim dengan mengatakan bahwa Pancasila sudah betul secara syar’i sehingga apa yang tertulis dalam Piagam Jakarta (Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) perlu dihapus karena Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip ketauhidan dalam Islam.

Sila-sila lain yang termaktub dalam sila ke-2 hingga sila ke-5 juga sudah sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip ajaran Islam. Karena ajaran Islam juga mencakup kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Atas ikhtiar lahir dan batin Kiai Hasyim Asy’ari tersebut, akhirnya rumusan Pancasila bisa diterima oleh semua pihak dan menjadi pemersatu bangsa Indonesia hingga saat ini.

Adapun riwayat ketika Gus Dur secara mudah memutuskan bahwa Pancasila itu Islami dan final diceritakan oleh salah satu sahabat Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus dalam Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus karya KH Husein Muhammad (2015).

Bahkan, Gus Mus sendiri merupakan pelaku sejarah dalam perumusan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi dalam Muktamar NU 1984 tersebut. Dia salah satu kiai yang ditunjuk oleh Gus Dur untuk menjadi anggota dalam tim perumusan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila.


Muktamar NU 1984 juga menjadi tonggak sejarah bagi organisasi para kiai pesantren ini untuk kembali ke Khittah 1926. NU menegaskan diri sebagai Jami’yyah Diniyyah Ijtima’iyyah (organisasi sosial kegamaan) sesuai amanat pendirian organisasi pada 1926, bukan lagi sebagai organisasi politik praktis.


Dalam Muktamar 1984 itu ada tiga komisi, salah satunya adalah komisi khittah yang membahas paradigma, gagasan dasar, dan konsep hubungan Islam dan Pancasila. Dua komisi lain membahas tentang keorganisasian yang dipimpin oleh Drs Zamroni dan komisi AD/ART dipimpin oleh KH Tholhah Mansur. Dengan jumlah anggota rapat komisi yang cukup banyak, mereka membahas secara terpisah di tempat yang berbeda.


Gus Dur memimpin subkomisi yang merumuskan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila. Salah seorang cucu Hadltrassyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari  (1871-1947) ini kemudian menunjuk lima orang kiai sebagai anggotanya, yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri dari Rembang, Dr KH Hasan dari Medan, KH Zahrowi, KH Mukafi Makki, dan dr Muhammad dari Surabaya.


Gus Dur membuka rapat dengan bertanya kepada anggotanya satu per satu soal pendapatnya tentang hubungan Islam dan Pancasila. Mereka menyampaikan pandangannya terhadap satu per satu sila dalam Pancasila disertai sejumlah argumen keagamannya. Gus Dur mendengarkan dan menyimak dengan penuh perhatian.


Pada dasarnya, Pancasila menurut para kiai dalam subkomisi ini tidak bertentangan dengan Islam, justru sebaliknya sejalan dengan nilai-nilai Islam. “Pancasila itu Islami,” simpul mereka seperti diungkapkan Gus Mus.


Usai mereka menjawab, Gus Dur berkata, “Bagaimana jika ini (Pancasila itu Islami, red) saja yang nanti kita sampaikan, kita deklarasikan di hadapan sidang pleno Muktamar?” tanya Gus Dur. Tanpa pikir panjang, mereka setuju, sepakat bulat, lalu rapat ditutup. “Al-Fatihah!” Menurut pengakuan Gus Mus, kala itu Gus Dur tersenyum manis, ya manis sekali.


Lalu Gus Mus memberikan kesaksian, “Gus Dur hebat sekali. Rapat untuk sesuatu yang mendasar dan pondasi bagi penataan relasi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya diputuskan dalam waktu 10 menit! Sementara komisi yang lain rapat sampai berjam-jam bahkan hingga subuh untuk memutuskan pembahasan sesuai bidangnya masing-masing.”

Saturday, 1 June 2019

Ulasan Sekitar Pancasila



PANCASILA: DARI PUNCAK KEJAYAAN MAJAPAHIT HINGGA PIDATO BUNG KARNO 1 JUNI 1945
Oleh Dr Bambang Noorsena

Secara etimologis,  kata "Pancasila" berasal dari bahasa Jawa kuno,  yang sebelumnya diserap dari bahasa Sanskerta dan Pali, yang artinya "sendi dasar yang lima" atau "lima dasar yang kokoh". Mula-mula kata "sila" dipakai sebagai dasar kesusilaan atau landasan moral Buddhisme,  yang memuat lima larangan. 

Sebagaimana disebutkan dalam Tripitaka, kelima sila itu dalam bahasa Pali adalah sebagai berikut:

1. ”Pānātipātā veramani sikkhapadamsamādiyāmi“ (aku melatih diri untuk menghindari pembunuhan);
2. ”Adinnādānā veramani sikhapadam samādiyāmi” (aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan);
3. ”Kāmesu micchācāra veramani  sikkhapadam samādiyāmi” (aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila);
4. ”Musāvāda veramani sikhapadam samādiyāmi” (aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar, berdusta, atau memfitnah);
5. ”Surāmeraya majjapamādatthān veramani sikkhapadam samādiyāmi” (aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan).

Dalam makna "lima dasar moral" yang harus dipatuhi tersebut, maka istilah Pancasila di negara kita sudah dikenal sejak zaman Majapahit. Istilah ini dijumpai baik dalam karya Mpu Tantular dalam bukunya "Kekawin Sutasoma" (ditulis tahun 1384 M)  maupun karya Mpu Prapanca yang ditulis sebelumnya dalam sastra pujanya yang berjudul "Kekawin Negara Krtagama" (ditulis tahun 1367 M).

Jadi, kedua pujangga itu hidup pada masa puncak kejayaan Majapahit, yang dikenal sebagai negara nasional (’Nasionale Staat’)  yang kedua,  yaitu setelah kedatuan Sriwijaya dan sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam Kekawin Sutasoma, istilah Pancasila disebutkan 2  kali, yaitu dalam seloka-seloka suci yang dalam bahasa Jawa kuno bunyinya:

”Bwat Bajrayana Pancasila ya gegen den teki hawya lupa!”
Artinya: "Bagi yang mengikuti vajrayana, Pancasila harus dipegang teguh, jangan sampai dilupakan" (Sutasoma 145:2).

Dalam puluh lain dari Kekawin yang sama,  Mpu Tantular mencatat pula:

”Astam sang catursrameka tarinen ring Pancasila Krama!”
Artinya: "Wajibkanlah kepada semua anggota ’catur asrama’ supaya Pancasila dijalankan secara teratur" (Sutasoma 4:4).

Selanjutnya, dalam Kekawin Negara Krtagama, kata Pancasila dijumpai dalam seloka yang berbunyi:

"Yatnagegwani Pancasila krtasangskara bhisekakrama".
Artinya: "Sang Raja selalu waspada dan teguh memegang Pancasila, berlaku mulia, dan menjalankan upacara agama" (Negara Krtagama 43:2).

PANCASILA DIGAUNGKAN KEMBALI DALAM PIDATO BUNG KARNO, 1 JUNI 1945.

Dalam pidatonya tanpa teks di depan sidang Dokuritsu Zunbi Tyusakai (Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan), Bung Karno menggaungkan kembali Pancasila sebagai nama dasar negara kita, untuk memenuhi pertanyaan Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, yaitu apa dasarnya Indonesia merdeka yang akan didirikan.

Menurut Bung Karno,  yang diminta dr. Radjiman tidak lain adalah ’Welthanchauung’ atau ’Philosofische Gronslag’ (Dasar Filsafat) yang di atasnya Negara Indonesia merdeka akan didirikan. Dalam pidato yang akhirnya dikenal sebagai "Lahirnya Pantja-Sila"  itu,  Bung Karno mengusulkan dasar-dasar sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia.
2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan.
3. Mufakat atau Demokrasi, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan.
4. Kesejahteraan Sosial.
5. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Istilah Pancasila diusulkan oleh Bung Karno dalam pidatonya yang bersejarah itu, pada tanggal 1  Juni 1945.

"Sekarang," kata Bung Karno, "banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa, namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi",  yang disambut dengan tepuk tangan riuh.

Setelah melalui proses perumusan ulang, pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945 tersebut, kemudian dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945, Alinea 4, yang lengkapnya berbunyi:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 
MENGAPA MAJAPAHIT MENJADI SUMBER INSPIRASI,  BUKAN BUGIS,  BANTEN ATAU MATARAM?

Dalam pidato "Lahirnja Pantja-Sila",  Bung Karno menekankan bahwa kita adanya dua kali mengalami ’Nationale Staat’,  yaitu di zaman Sriwijaya dan Majapahit.

Selain kedua negara itu, kita tidak mengalami negara nasional. Bung Karno memberi contoh,  Mataram,  Pejajaran, Banten, dan Bugis adalah negara-negara berdaulat, negara-negara merdeka, tetapi bukan negara nasional.

Itulah sebabnya para pendiri bangsa, banyak terinspirasi oleh Majapahit. Dari Majapahit kita mengambil-alih istilah Pancasila sebagai nama Dasar Negara,  salam nasional kita merdeka,  dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai sesanti dalam lambang negara kita.

Demak, Mataram,  Bugis,  Banten tidak pernah berhasil mempersatukan Nusantara, karena landasan dalam bina negara bukan sebuah ’welthansauung’ dari semua, oleh semua dan buat semua, melainkan berasas primordialitas agama tertentu. Terbukti bahwa sistem teokrasi atau negara agama, tidak pernah bisa mempersatukan Nusantara yang sangat majemuk.

Selanjutnya, sama-sama negara nasional yang wilayahnya bahkan lebih besar dari NKRI sekarang, mengapa para pendiri bangsa lebih terinspirasi oleh Majapahit,  bukan Sriwijaya? Dasar negara kita,  misalnya,  namanya tidak diambil dari Sriwijaya? 

Faktanya, dokumentasi tertulis Sriwijaya tidak selengkap Majapahit,  yang telah  mengabadikan prinsip-prinsip kehidupan bina negara dalam sejumlah prasasti,  lontar-lontar perundang-undangan, dan sejumlah besar karya sastra yang sampai sekarang masih dibaca dan terus dilestarikan di pulau Bali.

Semua peninggalan sejarah itu tidak ada lagi di Jawa, tetapi justru diwariskan utuh-utuh kepada kita dari Pulau Dewata. Orang Jawa tidak lagi berbicara dalam bahasa Jawa kuno,  tetapi di Bali bahasanya Mpu Tantular dan Mpu Prapanca ini masih dilestarikan dalam bentuk sastra kekawin.

Ada yang mengatakan bahwa "teman ahli bahasa" yang dimaksud Bung Karno dalam pidatonya itu adalah Pak Yamin. Tetapi yang lain bilang  Ida Bagus Sugriwa,  salah seorang putra Bali yang turut dalam sidang-sidang menjelang kemerdekaan RI. Baik Profesor Yamin maupun Ida Bagus Sugriwa adalah dua orang yang  agaknya berdiskusi dengan  Bung Karno, yang disebutnya "seorang teman ahli bahasa".

Meskipun  Yamin adalah seorang putra Minang,  namun sebagai ahli kebudayaan dan bahasa,  dikenal sudah lama bersentuhan dengan segala hal yang berkenaan dengan kebesaran Majapahit. Konon, di sela-sela Sidang BPUPKI antara Mei-Juni 1945, Yamin yang mula-mula menyebut ungkapan "Bhinneka Tunggal Ika",  I Gusti Bagus Sugriwa yang duduk di sampingnya spontan melengkapi sambungan ungkapan itu “Tan hana dharma mangrwa" (Tidak ada kebenaran yang mendua).

Keakraban keduanya seperti tampak dalam penggalan catatan sejarah di atas,  membuktikan bahwa kedua sahabat Bung Karno ini memang sangat mendalami karya-karya Jawa kuno. Lebih-lebih Ida Bagus Sugriwa,  sebagai putra Bali dari Buleleng,  menjadi saksi hidup bahwa di Bali istilah-istilah seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika,  ’maharddhika’,  dan sebagainya,  adalah ungkapan-ungkapan yang masih hidup, dihayati,  dan dilestarikan selama berabad-abad melalui sastra Kekawin. Bali adalah museum hidup Majapahit yang masih tegak berdiri sampai hari ini.

Selain naskah Leiden, sumber rujukan lontar Sutasoma banyak menginspirasi para Bapak bangsa di awal kemerdekaan, yang mungkin dibaca saat itu. Jadi,  sangat mungkin sebelum mengucapkan pidatonya,  Bung Karno mendiskusikannya dengan Yasin dan Ida Bagus Sugriwa.

Majapahit menjadi inspirasi para Bapak bangsa, bukan hal yang kebetulan. Negara nasional Kedua ini tidak hanya memberikan kebanggaan sebagai inspirasi untuk menghadirkan keagungan sejarah yang pernah ada,  tetapi juga telah memberikan model dalam mengelola warisan pluralisme bangsa. Jadi, bukan hanya istilahnya yang kita warisi,  tetapi pemikiran filsafat kenegaraan yang dibangun di atas jiwa merdeka yang terbuka,  toleran, bahkan secara aktif berbagi dalam kebersamaan untuk merenda masa depan bangsa dan umat manusia.

Selamat memperingati Hari Lahirnya Pancasila!



Dulu 1 Juni 1964 diperingati juga sebagai hari lahirnya Pancasila.
Saat itu PKI sangat berpengaruh karena PKI adalah parpol yang memenangkan pemilu.
Dan hari Pancasila itu, PKI lah yang mengusulkan pada Soekarno.

Ada sebuah buku dari DN Aidit yang berjudul "MEMBELA PANTJASILA" tahun '64.
Seperti Napak tilas bukan?

Aidit yang ngotot jadikan 1 Juni 64 sebagai Hari Pancasila, setahun kemudian Aidit juga yang berkhianat pada Pancasila.
Modus dengan berkata cinta Pancasila, padahal sedikitpun dia tidak akan pernah menjalani nilai Pancasila.
Bahkan akan merongrongnya.

Sekarang, Napak tilas itu seperti terulang kembali.
Saat ini ada sekelompok orang merasa Pancasila sekali.
Dan suka berteriak bahwa mereka Pancasila dan Indonesia.

Waspadai...
Karena dulu kita pernah mengalaminya.

# Iwan Balau

#WaspadaPKI Gaya Baru
#AwasBahayaLatenKomunis

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Kenapa 1 Juni tiba-tiba libur?
Kenapa 1 Okt hari kesaktian Pancasila tiba-tiba hilang dari kalender?

Pemerintah sekarang (bahasa halusnya) seolah-olah hendak melupakan Hari kesaktian pancasila, hari dimana PKI Tumbang setelah melakukan pemberontakan ke dua kalinya dengan membantai para jendral di tanggal 30 September.

PKI memang berhasil menghilangkan pemutaran film dokumenter G30S-PKI.

PKI juga berhasil menghilangkan pemeriksaan keturunan PKI yang memasuki pemerintah sehingga 100 orang PKI berhasil duduk di DPR & DPR saat ini.

PKI juga berhasil memotong taring musuh bebuyutannya, Tentara Nasional Indonesia.

Tapi,,, di zaman SBY masih ada penurunan bendera setengah tiang setiap 30 September, sekarang???

Dan jika kita tinjau, Pancasila pun pertama kali dirumuskan bukan tanggal 1 Juni, tapi 29 Mei 1945 oleh Mr. Muhammad Yamin dengan urutan:

1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat

Berbeda dengan Soekarno yang sangat mendukung PKI hingga pada 1 Juni merubah susunan menjadi:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Intermasionalisme atau Peri Kemanusiaan
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa

Perhatikan, Pancasilanya Soekarno 1 Juni, Sila Ketuhanan ditaruh di sila paling Buntut!!!

Dan pada Piagam Jakarta 22 Juni 1945, Susunan berubah menjadi terbaik:

1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi Para Pemeluk-pemeluknya
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Dan akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945, maka lahirlah Pancasila yang sampai saat ini digunakan.

PKI yang tidak percaya pada sila ke satu berusaha berkali-kali melakukan pemberontakan pd Tahun 1948 dan 1965.

Mengapa dihapus dari kalender oleh pemerintah saat ini???

Terlalu banyak kebetulan-kebetulan yang terjadi

Kenapa 1 Juni tiba-tiba libur?
Kenapa 1 Okt hari kesaktian Pancasila tiba-tiba hilang dari kalender?
Kenapa 100 orang PKI bisa duduk di parlemen?
Kenapa buku PKI bebas beredar?
Kenapa PKI bebas melakukan MUNAS berkali-kali?

Ya Allah, semoga Rakyat & Militer sadar bahaya Laten ini

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1751057068245533&id=100000237690111




Hari Panca Sila.
penetapan 1 Juni sebagai hari lahirnya Panca Sila oleh Pemerintah, sekali gus hari libur Nasional, tentu sudah melalui proses yg panjang, secara saksama dan melalui kajian2 ahli2, ilmuwan, sejarawan yg mumpuni.
Bukan hanya cuma berdasar 1 referensi, buku karangan siapapun dia, apakah itu namanya Cindy Adam, ato bahkan Aidit sekalipun.
Jadi jangan mencampur adukkan , ato comot tulisan sono comot sini, kemudian mengambil kesimpulan yg naif.

Perhatikan tulisan Valeria diatas:
1. PKI berhasil menghilangkan pemutaran film dokumenter G30S-PKI
Harap diketahui, film itu tidak diputar lagi, bukan karena Pemerintah mau melupakan Kesaktian Panca Sila, tapi memang sudah saatnya segala sejarah kelam Bangsa Indonesia, lebih dari 50 tahun lalu itu, yg membuat perpecahan bangsa,  ditutup dan diisi dengan masa rekonsiliasi bangsa.
Dan terlalu naif , bila dikatakan PKI berhasil menghilangkan pemutaran film dokumenter.
2. PKI berhasil menghilangkan pemeriksaan keturunan PKI memasuki pemerintah, shg 100 orang PKI berhasil duduk di DPR.
Ini pengambilan kesimpulan yg lebih salah kaprah lagi.
Siapa 100 orang PKI yg duduk di DPR? Kenapa asal bicara tanpa data dan tanpa bukti.
Melarang keturunan PKI untuk masuk pegawai negeri, lebih  berarti mematikan kesempatan keturunan orang yg salah haluan, melanggar HAM dalam arti yg sebenarnya.
Apakah klo sudah jadi keturunan orang yg dituduh PKI, tidak punya hak lagi sbg pegawai negeri.
Salah apa itu anak2? Dosa turunan?
Memang anak2 PKI tsb bisa memilih jadi anak orang bukan PKI?
Apakah teman2 mas sendiri ato bahkan si Valeria, yakin dan bisa pilih jadi anak keturunan kader Marhaen ato yg bukan PKI?
3. Valeria menganggap susunan Panca Sila terbaik, pada Piagam Jakarta,
Yg penting, bukan susunan kata2 nya ditaruh dimana, tapi apakah komitmen nya pada Tuhan YME, dilaksanakan ato tidak.
Percuma saja mereka  memaksakan pelaksanaan syariat agama nya pada seluruh rakyat ( tanpa kecuali ), dan malah juga memuja ideologi khilafah yg pemimpin nya nanti pasti bukan bangsa Indonesia, lagipula kenapa mesti meng agung2 kan kebiasaan budaya bangsa lain?
4. PKI bebas melakukan MUNAS ber kali2.
Issue macam apa yg dilontarkan seperti ini?
Kapan dan dimana?
Jangan dikatakan klo menentang khilafah, berarti mendukung aliran komunis.
Itu kan tuduhan dan gebyah uyah yg naif.
5. Hati2 bila bicara, jangan merèmèhkan pendapat orang lain.
Meski kita banyak baca buku, meski kita banyak jabatan di partai, meski kita jelas fondasinya,
bukan berarti orang lain, semuanya klo bicara, asbun ato kurang layak.
Perlu diingat, ada pameo: diatas gunung, selalu masih ada gunung lagi, artinya tidak ada manusia  yg sempurna , masing2 perlu melengkapi satu dengan yg lain.

Saya urun rembug seperti ini,
jangan Valeria ato siapapun orangnya,  menganggap saya membela ajaran komunis, karena sebelum dia lahirpun, saya dkk sudah berjuang melawan tekanan orang2 berideologi komunis, dijaman saat mereka sedang kuat2 nya berkuasa.
NKRI pasti. 🇮🇩























Negara Kesatuan Republik Indonesia


Tags

Recent Post