Showing posts with label Radikalisme. Show all posts
Showing posts with label Radikalisme. Show all posts
Saturday, 13 June 2020
Ideologi Extrim Yang Berbahaya.
Berikut negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir:
1. Mesir
Dibubarkan: 1974
Alasan: Terlibat upaya kudeta
2. Suriah
Dibubarkan: 1998
Alasan: Dilarang melalui jalur ekstra yudisial
3. Turki
Dibubarkan: 2004
Alasan: Organisasi teroris
4. Rusia
Dibubarkan: 2003
Alasan: Organisasi teroris
5. Jerman
Dibubarkan: 2003
Alasan: Penyebar propraganda kekerasan dan anti semit Yahudi
6. Malaysia
Dibubarkan: 2015
Alasan: Dianggap kelompok menyimpang
7. Yordania
Dibubarkan: 1953
Alasan: Mengancam kedaulatan negara
8. Arab Saudi
Dibubarkan: Era Abdulaziz
Alasan: Ancaman negara
9. Libya
Dibubarkan: Era Moamar Khadafi
Alasan: Organisasi yang menimbulkan keresahan
10. Pakistan
Dibubarkan: 2016
Alasan: Dianggap ancaman negara
11. Uzbekistan
Dibubarkan: 1999
Alasan: Menjadi dalang pengeboman di Tashkent
Wednesday, 11 December 2019
'Saya hampir jadi teroris': Kisah perempuan yang 'dicuci otak' agar bergabung kelompok Islam ekstrem

Dua belas tahun silam, Yunita Dwi Fitri mengalami peristiwa yang membuatnya nyaris terjerumus dalam kegiatan kelompok Islam ekstrem yang menghalalkan kekerasan.
Yunita menuliskan pengalamannya di laman Facebook yang diberi judul 'Saya hampir jadi teroris' tidak lama setelah serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan kantor polisi di Surabaya yang melibatkan sejumlah perempuan yang membawa anak-anaknya.
"Anak-anak muda mesti lebih waspada. Mereka mengincar anak-anak muda. Penampilan mereka biasa saja, tidak mencurigakan," ungkap Yunita dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Kamis (17/05).
Pada kalimat pertama kesaksiannya, Yunita mengaku memberanikan diri untuk mengungkapkan pengalamannya sebagai bentuk kepedulian.
"Karena saya peduli, jadi saya mau berbagi cerita 12 tahun yang lalu," Yunita mengawali kesaksiannya.
- Bom Surabaya: 'Saya tidak terlalu kaget Dita meledakkan diri bersama keluarganya'
- Bagaimana para perempuan menjadi pelaku teror dan membawa anak?
- Nathan, Evan, dan sejumlah anak dalam teror bom Surabaya
Dengan alasan yang sama, sejumlah pengguna media sosial lainnya dalam waktu hampir bersamaan juga membuat kesaksian yang relatif sama - pernah dibujuk oleh orang-orang yang menawarkan ideologi kekerasan atas nama Islam.
Sebelumnya, seorang pria bernama Ahmad Faiz Zainuddin, kelahiran 1977, mengaku berhasil menolak bujukan untuk bergabung kelompok Islam radikal.
'Perempuan itu enggak pakai jilbab'
Pada 2006, saat sibuk menyelesaikan tugas skripsi di sebuah perguruan tinggi di Bandung dan dalam perjalanan ke kampus, Yunita dihampiri seorang perempuan yang mengaku lulusan SMA dan meminta tolong dicarikan pondokan atau indekos.
Kebetulan tempat indekosnya ada kamar kosong, Yunita lantas mengajak perempuan itu ke pondokannya. "Dia enggak pakai jilbab dan awalnya penampilannya tidak mencurigakan," ungkapnya.

Tiba di lokasi pondokan, perempuan itu menolak bertemu pemilik pondokan dan justru minta minum dan duduk di dalam kamar Yunita. Di sinilah Yunita mulai berpikir "agak aneh" melihat perangai tamunya.
"Suka baca alquran ya?" Sang tamu bertanya pada Yunita saat melihat Alquran dalam kondisi terbuka di meja belajarnya. Yunita mengiyakan dan mengaku "sedang belajar tafsir Alquran".
Tidak lama kemudian, perempuan itu meneruskan pertanyaannya: "Boleh enggak saya ajak teman saya ke sini, kita belajar bareng tentang tafsir Alquran?" Yunita, yang masih penasaran, mengiyakan.
'Sangat sopan sekali'
Sesuai janji, perempuan itu mengajak rekannya seorang perempuan berjilbab - yang usianya sekitar 22-23 tahun - ke kamar kos Yunita.
"Ngomongnya tertata banget, duduknya pun sangat sopan sekali," ungkap Yunita menggambarkan sosok tamunya itu.

Di hadapannya, perempuan berjilbab itu meminta Yunita membuka Alquran dan diminta membacakan sejumlah ayat. Menurutnya, sang tamu tidak memberi kesempatannya untuk bertanya.
"Pokoknya, kalau disimpulkan, harus jihad segala macam... Intinya kalau ada orang kafir, bunuhlah. Seolah-olah menyuruh saya seperti itu," papar Yunita.
Dia mengaku kaget dan seperti kehilangan kata-kata saat menyimak ucapan sang tamu tersebut. "Masak sih kayak gitu... Dalam batin, saya tetap ada penolakan. Masak sih kayak gitu."
'Ibu saya kaget, dan menduga saya akan dibaiat Negara Islam Indonesia (NII)'
Pijar Anugerah, wartawan BBC News Indonesia
Ketika saya di kelas tiga SMA, sekitar tahun 2008, saya dekat dengan seorang alumni yang menjadi pembina di kegiatan ekstrakulikuler (ekskul) Kelompok Ilmiah Remaja. Kakak kelas ini telah menjadi mahasiswa di sebuah universitas terkemuka di Bandung.
Di luar kegiatan ekskul, ia menawarkan saya dan beberapa kawan sekelas untuk bimbingan belajar gratis menjelang Ujian Nasional (UN). Saya pun menyanggupi. Kami pun beberapa kali mengadakan sesi belajar di masjid dekat sekolah setelah salat zuhur.
Pada suatu hari, kebetulan hanya saya yang hadir, ia mengajak saya untuk belajar di tempat lain. Dengan membonceng motornya, saya dibawa ke sebuah rumah di daerah yang cukup jauh dari sekolah. Di rumah itu saya diperkenalkan dengan seorang laki-laki berkacamata, yang tidak terkesan bisa mengajari saya materi UN.
Dan memang, saya menyadari tak lama kemudian, bahwa saya tidak diajak ke sana untuk bimbingan belajar. Laki-laki berkacamata itu mengajak saya 'kajian' tentang Islam.
Ia berusaha menggoyahkan anggapan tentang Islam yang saya pegang selama ini. Caranya, dengan mengajukan rangkaian pertanyaan untuk mengarahkan saya ke kesimpulan yang ia inginkan.
Misalnya, ia bertanya: "Kamu Muslim bukan?" Saya pun menjawab iya. Kemudian ia bertanya lagi, "Apa buktinya kalau kamu Muslim?"
Untuk menjadi seorang Muslim, katanya, seseorang harus mengucapkan dua kalimat syahadat; dan karena saya dilahirkan di keluarga Muslim dan dibesarkan sebagai Muslim, saya tak pernah mengucapkan syahadat dengan disaksikan orang lain seperti orang-orang non-Muslim yang hendak pindah agama.

Saya pun ditawari untuk mengucapkan syahadat dengan disaksikan oleh mereka. Saya pun ragu, dan berkata ingin memikirkannya terlebih dahulu. Si laki-laki berkacamata dan si kakak kelas terus membujuk saya. Tapi akhirnya mereka menyerah. Saya diantar pulang tanpa sempat belajar apapun tentang materi UN.
Di rumah, saya menceritakan pengalaman tersebut ke Ibu saya. Ibu pun kaget, dan langsung menyuruh saya untuk menjauh dari orang-orang itu. Ibu menduga saya hampir dibaiat untuk bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII), kelompok yang merupakan cikal bakal Jamaah Islamiyah.
Terduga teroris yang menyerang Mapolda Riau pada hari Rabu (16/05) disebut adalah anggota NII.
Kebetulan, Ibu biasa mendengarkan ceramah Ustad Aam Amirudin di radio OZ setiap pagi. Dari beliaulah Ibu mengetahui tentang cara perekrutan NII, yang disebutnya sebagai kelompok yang eksklusif dan membolehkan anggotanya untuk melakukan kejahatan selama demi kepentingan kelompok.
Setelah itu, saya sempat ditelepon dan diajak kembali untuk ikut 'kajian' dua-tiga kali. Saya terus menolak, dan kemudian mereka berhenti menghubungi saya.
Saya pun lulus UN dan, uniknya, masuk universitas yang sama dengan kakak kelas yang pertama kali mengajak saya ikut 'kajian' itu. Kami bahkan melakukan penelitian di laboratorium yang sama. Hubungan kami tetap baik, meskipun tidak begitu dekat, dan ia tak pernah menyinggung lagi soal kajian selama kami di kampus.
Namun dua tahun kemudian, saya mengetahui kalau ia ternyata mencoba merekrut beberapa adik angkatan saya. Kali ini modusnya adalah bimbingan tes TOEFL dan lokakarya teknik penginderaan jauh atau GIS. Saya pun segera memperingatkan adik-adik angkatan.
Tapi sikap mereka tampaknya lebih santai. Mereka memanfaatkan kesempatan untuk les gratis, tanpa bergabung dengan kelompok manapun.
Pertemuan yang berlangsung tidak sampai satu jam itu akhirnya berakhir, "tanpa ada basa-basi," ujar Yunita mencoba mengingat lagi kejadian itu.
Merasa penasaran, Yunita tidak menolak saat ditanya apakah dirinya tidak keberatan untuk melanjutkan belajar tafsir Alquran di tempat kos sang tamu tersebut.
'Pintu dan jendela ditutup rapat'
Keesokan harinya, Yunita dijemput untuk melanjutkan belajar tafsir Alquran di tempat pondokan perempuan yang memberikan materi "jihad" kepadanya.

Yunita mencoba mengingat lagi lokasi pondokannya yang disebutnya "agak masuk ke dalam dan jauh dari keramaian".
"Nah, saya yang kaget itu kamarnya sama-sekali tidak ada barang. Jadi cuma ada lemari berukuran sedang dan tikar," ungkap Yunita.
Dia kemudian duduk di ruangan itu, dan sambungnya, pintu serta jendelanya ditutup rapat oleh salah-seorang perempuan itu. "Gordinnya juga ditutup."
Dalam momen inilah, Yunita mengaku mulai takut ("saya takutnya diculik," akunya, mengenang). "Tapi karena masih penasaran, saya coba ikuti."
Menggambar 'mobil masuk jurang' dan 'apel busuk'
Di ruangan berukuran tiga kali tiga meter itulah, perempuan berjilbab itu kemudian mengeluarkan papan tulis yang semula disimpan di balik lemari.
"Tidak ada Alquran di ruangan itu," ungkap Yunita.
Kemudian perempuan itu menggambar mobil, dengan sejumlah penumpang di dalamnya, yang kemudian jatuh ke jurang. "Dia sistematis sekali menjelaskannya."

"Kalau pengemudinya salah mengendarai mobilnya dan masuk ke jurang, maka semua penumpangnya ikut mati jatuh ke dalam jurang."
Yunita melanjutkan: "Dia menggambarkan sebuah negara kalau pemimpinnya salah, pemimpinnya enggak sesuai dengan (tafsirnya atas) apa yang ada di Alquran itu, yang kemarin dia bicarakan itu, kita akan salah jalan juga."
Di hadapan Yunita, perempuan itu juga menggambar buah apel dalam kulkas. Dia menggambar satu buah apel busuk dan beberapa buah apel yang segar.
"Apel-apel lain yang bersih, ikutan busuk juga karena ada satu apel busuk. Intinya, apel busuk harus disingkirkan."
Dalam laman Facebooknya, Yunita menjelaskan bahwa simbol apel busuk itu berarti "itulah jika masih berteman dengan orang kafir dan tidak sepaham dengan kita", seperti diutarakan sang perempuan tersebut di hadapannya.
Ada beberapa materi lainnya yang disampaikan, tetapi Yunita mengaku lupa.
Dimintai sumbangan Rp400 ribu
Lebih lanjut Yunita mengungkapkan bahwa sang perempuan itu kemudian menjelaskan bahwa untuk misi mendirikan "negara baru untuk Allah" diperlukan dana.
"Intinya sodaqoh (atau sumbangan), dan sodaqoh awalnya sebesar Rp 400 ribu," kata Yunita menirukan ucapan perempuan tersebut. Uang itu diminta diserahkan esok harinya.

Yunita mengaku saat hendak menanyakan kenapa sumbangannya sebesar Rp400 ribu, perempuan itu berkata: "Karena dengan pengorbananmu, maka Allah akan tahu sampai mana pengorbananmu untuk Nya."
Belum sempat bertanya, perempuan itu membombadirnya dengan kalimat: "Saya tahu kamu masih mahasiswa, jadi belum tahu cari uang sebesar itu."
Perempuan itu kemudian menceritakan pengalamannya: "Saya di awal pun menjual telepon genggam saya untuk sodaqoh Rp400 ribu."
Dalam Facebooknya, Yunita menulis bahwa dirinya dibolehkan berbohong kepada orang tuanya. "Bahkan ketika kamu berbohong meminta uang ke orang tua atau menjual telepon genggammu adalah sebuah pengorbanan untuk Allah..."
Merasa dicuci otak
Mendengarkan apa yang diutarakan perempuan itu, Yunita mulai melihat ada keanehan. "Masak saya diminta berbohong. Bukankah berbohong itu berdosa?" Tapi Yunita mengaku tidak ingin terlihat seperti menolak ajakan itu.
Di akhir pertemuan, Yunita diminta tidak menceritakan hasil pertemuan itu kepada siapapun.

"Jujur saja, saya cukup merasa dibrainwash (dicuci otak) untuk mengikuti perkataannya, sampai saya enggak berani ngomong ke teman terdekat," katanya. Kebetulan sebagian besar teman-temannya di kampus adalah non Muslim.
Selain diminta menyumbangkan uang Rp400 ribu, Yunita diminta mengenakan jilbab putih, kemeja putih serta celana bahan hitam pada esok harinya.
"Saya diajak janjian naik kereta api ke Cimahi, sambil bawa uang Rp400 ribu, dan mengenakan jilbab," ungkapnya.
Mendapat pencerahan: 'Modus NII'
Mendengarkan suara hatinya, Yunita kemudian memutuskan mencari orang yang dianggapnya memahami masalah keislaman. Hal ini kemudian mengantarnya ke yayasan Darut Tauhid di kawasan Geger Kalong, Bandung.
Di masjid yayasan itu, Yunita mengaku menemui dan berkenalan dua mahasiswi berhijab panjang. "Singkat cerita, mereka adalah penyelamat saya," ungkapnya.
Dia kemudian menceritakan pengalamannya tersebut. "Mereka yang bercerita bahwa modus seperti itu dilakukan oleh kelompok Negara Islam Indonesia (NII)."

Mereka kemudian menasihati agar Yunita tidak mengikuti lagi pertemuan dengan orang-orang tersebut.
"NII berusaha mencuci otak anak-anak muda, banyak di antara mereka yang hilang, meninggalkan keluarga demi membangun NII, menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang," ungkapnya menirukan keterangan dua mahasiswa tersebut.
'Karena saya peduli'
Yunita mengaku saat itu langsung percaya dengan keterangan mereka. "Saya langsung sadar." Yunita kemudian memutuskan untuk tidak memenuhi perjanjian pertemuan di Cimahi.
Suatu saat, dia berpapasan dengan peremuan yang mengaku lulusan SMA yang meminta tolong dicarikan pondokan tersebut. "Dia berjilbab dan pura-pura tidak melihat saya."
Yunita mengaku selalu teringat kembali peristiwa itu setiap muncul kasus-kasus kekerasan atas nama agama, termasuk serangan bom bunuh diri di Surabaya.
Dia kemudian menjelaskan motifnya berbagi pengalaman tersebut di media sosial. "Karena saya peduli, jadi saya mau berbagi cerita 12 tahun yang lalu," tegasnya.
Dia juga mengharapkan pengalamannya ini bisa diketahui anak-anak muda sehingga "lebih waspada" dan "berhati-hati".
"Mereka mengincar anak-anak muda yang sedang cari jati diri. Saya harap mereka lebih waspada."
Heyder AffanBBC News Indonesia
Thursday, 31 October 2019
MMD. "SEKARANG SAYA MENKOPOLHUKAM, SAYA TANTANG KALIAN..."
MMD. "SEKARANG SAYA MENKOPOLHUKAM, SAYA TANTANG KALIAN..."
politikandalan.blogspot.com
Penampilan Mahfud MD sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Kabinet kedua Jokowi di acara ILC dengan tajuk “Kabinet Indonesia Maju Yang Menangis dan Tertawa", sungguh sangat memukau sekali.
Mahfud MD muncul sebagai pembicara kedua setelah Hendri Satrio yang panjang lebar menguraikan analisa cara Jokowi memilih menteri. Lalu Karni Ilyas meminta Pak Menkopolhukam untuk menanggapi analisis Hendri Satrio. Dengan santai Mahfud MD mengatakan, “Itu analisis Hendri Satrio. Namanya analisis, tentu orang lain juga memiliki analisis yang lain, Saya tidak akan membahas itu” hahahaaa belum apa-apa sudah memukul, memang tidak penting juga sih analisis Hendri Satrio ini. Apalagi isi analisa dia tidak ada yang istimewa, sangat standar dan kita sendiri sudah sering membaca atau mendengarnya.
Pada malam itu Mahfud MD lebih tertarik untuk menjabarkan tujuan yang digariskan untuk mencapai visi yang ditentukan oleh Presiden, salah satunya adalah Deradikalisasi, yang akan dioperasionalkan oleh pemerintah untuk lima tahun ke depan, untuk menjamin jalannya pemerintahan secara baik dalam rangka menuju kemakmuran sesuai dengan tujuan Negara.
Sebuah kata pembuka yang sangat sophisticated, determined, formal, tapi santai dalam waktu yang bersamaan. Aura Mahfud MD sebagai sosok Menteri Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan begitu memancar disokong oleh gelar dan keahlian yang dia miliki. Setiap kata yang dia ucapkan seakan menjadi sebuah hukum yang menentukan. Lalu Mafhud MD melanjutkan…
“Saya akan bicara hubungannya Deradikalisasi itu dengan persoalan agama yang sering disalahpahami” Saya langsung tersenyum. Sungguh sebuah ancang-ancang yang kuat. Apalagi kalau kita melihat orang-orang yang hadir dan duduk sebagai tokoh pembicara di acara di ILC malam itu. Ada Haikel Hassan PA 212, Agus Subagio Pengamat Kebijakan Publik, Akbar Faizal Nasdem, Fadli Zon Gerindra, Gazali Effendi Pakar Komunikasi Politik, Inaz Nazrulah Zubair Hanura, Ngabalin tentu saja, Kapitra Ampera PDI Perjuangan, Bambang Harimurti wartawan, Fuad Bawazair, dan Salim Haji Said yang nanti akan menjadi The Wrapping up.
Mahfud MD selain seorang Pakar Hukum Tata Negara yang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, juga seorang yang dikenal sangat menekuni agama Islam. Tanpa basa basi, Mahfud MD memulai mimbarnya dengan mengungkapkan keberatannya terhadap sekelompok orang yang memplintir pernyataannya tentang kata Kafir. “Saya tidak pernah mengatakan dilarang mengatakan kafir. Yang saya bilang adalah kita tidak boleh mengkafir-kafirkan orang lain atau bersikap takfiri!”. Setelah merasa puas dengan protesnya, Mafhud MD mulai masuk pada inti pemaparan tentang Khilafah dan sistem Khilafah, yang dia kupas dari sisi agama Islam.
“Di dalam Islam, ada ajaran tentang Khilafah. Nanti saya bacakan dalil-dalilnya. Tapi di dalam Islam itu tidak ada ajaran tentang Sistem Khilafah!”
See? Kalian lihat perbedaannya bagaimana dulu Wiranto sebagai Mekopolhukam dan sekarang Mahfud MD menjabat posisi yang sama menyampaikan isu yang maha penting ini? Siapa di antara keduanya yang lebih mengena akal dan pikiran kita? Saya berani mengatakan Mahfud MD. Wiranto juga bagus, namun status dia yang seorang Jendral TNI dengan sejarah yang agak kelam di masa lalu, menghalangi seluruh keilmuannya tentang politik hukum dan keamanan. Wiranto sebagai Menkopolhukam sepertinya lebih bermanfaat ke dalam memberi masukan pada presiden dan para menteri yang ada di bawahnya, daripada ke luar memberikan penjelasan pada rakyat Indonesia.
Panjang lebar, dengan melantunkan beberapa kutipan ayat dari Kitab Suci Al-Quran, Mahfud MD sangat lancar mengupas dan menguliti apa itu Khilafah dan apa itu sistem Khilafah. Mahfud MD seperti sedang mengajari orang-orang yang duduk di depannya, terutama si utusan dari PA 212. Hingga kemudian dengan lantang Mahfud MD berkata, “Jadi Khalifah itu, Khilafah itu, di dalam khasanah Islam, ADA. Tetapi tidak ada sistem pemerintahan di dalam Islam itu. Sistemnya Bebas berdasarkan pilihannya sendiri sehingga Negara kita Negara Republik Indonesia ini sistem pemerintahannya sudah sesuai dengan Islam. Karena Islam Tidak Mengajarkan Sistem. Coba saya tanya yang suka ngajak-ngajak ke Khilafah itu, sistemnya seperti apa? Saya mau ikut kalau ada. Sekarang saya jadi Menkopolhukam, kalau ada yang punya dalil Al Quran dan HAdist bahwa Sistem Pemerintahan itu ada menurut Islam, saya akan ikut dan saya akan mengkampanyekannya!!”
Kalau sudah begini, dengan seluruh keilmuannya yang dimiliki oleh Mahfud MD, siapa yang berani menentang? wkwkwk,..
Setelah itupun Mahfud MD masih terus memaparkan dalil-dalil Islam tentang sistem pemerintahan yang berbeda yang sah dan sudah sesuai dengan Agama Islam dan dengan penekanan suara, Mahfud MD menyatakan bahwa sistem pemerintahan yang dijalankan di Indonesia sekarang sudah sangat sesuai dengan ajaran Islam. “Oleh karena itu jangan mengkafir-kafirkan orang karena berbeda cara bernegara!”
Sekarang kita mulia melihat benang merah antara protes Mahfud MD terkait pernyataannya tentang kata Kafir yang diplintir oleh sekelompok orang dan Khilafah. selanjutnya akan kemana MAhfud MD membawa kita? Itu datang setelahnya,...
Ibarat seorang peselancar yang sangat professional, berdiri tegak di atas papan selancar dan meluncur dengan tenang melewati ombak besar yang menghadang. Mahfud MD masuk ke ranah pembicaraan tentang radikalisasi dengan sangat luwes tanpa memotong benang merah tadi…
“Kenapa sekarang kita di sini ada gerakan kofar kafir? Kita sudah hidup nyaman-nyaman selama puluhan tahun rukun beragama, lalu sekarang muncul kaum-kaum takfiri itu yang selalu ingin mengkafirkan orang. Dan Saudara Itulah Yang Disebut Radikal!! Tetapi jangan salah paham ya, kalau kata radikal seakan-akan kita menuduh orang Islam radikal. TIdak! Orang Islam Justru Tidak Radikal Di Indonesia Ini!!” Jelas sekali yach,.. lanjut,...
“Ada seorang tokoh baru kemarin bilang nich ‘Umat Islam tersinggung karena pemerintah menuduh orang Islam radikal!’, pemerintah yang mana yang nuduh? Pemerintah tidak pernah bilang orang Islam itu radikal. Tapi Ada Orang Islam Yang Melakukan Gerakan Radikal Itu Pasti!! Dan sudah banyak. Melalui dunia pendidikan,..” Hasan Haekal mesem-mesem nggak enak duduk.
Ini catatan kedua untuk saya, setelah mencatat tentang perbedaan antara Khilafah dan sistem Khilafah, sekarang tentang perbedaan antara radikal dan gerakan radikal.
Kemudian ini yang menarik, Mahfud MD menantang para pembuat hoax! hahahaaa…
“Saya Islam, maksudnya, saya dan anda yang di medsos yang selalu membuat ‘hit and run’, nyerang lalu lari menghilang, ketika ditanya mana dalilnya, ayo ketemu, tidak ada. SAYA TANTANG KALAU BENAR ANDA MENEMUKAN SATU SISTEM YANG DIAJARKAN PERSIS OLEH YANG ALQURAN, ALHADIST, TENTANG KHILAFAH, SAYA AKAN JADI PENGIKUTNYA…”
Sampai akhirnya, Mahfud MD menutup mimbarnya yang berdurasi hampir setengah jam itu dengan sebuah penjelasan tentang pembubaran HTI dimana saat ini kita semua masih melihat pentolan-pentolannya bebas berkeliaran, berbicara dan berkumpul menyampaikan dalil-dalil mereka. Tidak seperti dulu waktu PKI dibubarkan orang-orangnya ditangkap dan dihukum. Dan penjelasan ini menjadi catatan saya yang ketiga bahwa pemerintah sekarang sudah sangat baik karena HTI dibubarkan Hanya Dari Sudut Hukum Administrasi Bukan Dari Sudut Hukum Pidana. Kalau HTI dibubarkan dengan sudut hukum pidana, jelas, sudah ditangkapi mereka semua. Di dalam hukum Administrasi, tindakan hukum itu diambil sebelum ke Pengadilan. Kalau di dalam hukum pidana, kita bawa ke pengadilan dulu baru dihukum.
Pembubaran HTI dari sudut Hukum Administrasi, sama halnya ketika pemerintah membubarkan sebuah perusahaan yang membakar hutan. Perusahaannya dibubarkan, tetapi orang-orangnya tidak dihukum, hanya perusahaannya saja sudah tidak bisa lagi melakukan kegiatan usaha.
Paham di sini, kawan-kawan?
Menohok, mengena, tepat sasaran, pas, menyentil, mencubit, perih, malu, menjadi tolol, itu adalah impact dari kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Mahfud MD terhadap kelompok pengusung khilafah, kelompok radikal, kelompok yang hobi mengkafir-kafirkan, kelompok takfiri dan kelompok ormas berbasis agama Islam.
Lucunya, orang-orang yang hadir di acara ILC itu mulai terlihat sibuk membuat oretan-oretan di kertas mereka masing-masing. Saya pikir mereka sedang menulis pertanyaan untuk Menteri Menkopolhukam, ternyata bukan. Mereka mencatat rencana isu-isu yang akan diserangkan pada pemerintah yang baru, setelah isu khilafah dibabat tuntas oleh Mentri Menkopolhukamnya, tanpa meninggalkan celah sedikitpun juga.
Dan benar saja, setelah Mahfud MD selesai berbicara dan pergi, orang-orang itu mulai mengalihkan isu pembicaraan dari isu “mengapa susunan kabinet sekarang dibentuk seperti mau berperang dengan khilafah” ke isu ekonomi dan isu lain.
Salam Indonesia Satu, Salam Bhineka 💞
Semangat Erika Ebener ✍
Politikandalan.blogspot.com
Friday, 30 August 2019
TALIBAN DI TUBUH KPK MULAI RESAH...
Saya dulu ada dibarisan terdepan membela KPK..
Saat itu terjadi kriminalisasi KPK oleh Polri dengan bahasa "Cicak versus Buaya". Bagi saya, Komisi Pemberantasan Korupsi adalah asset yang harus dijaga supaya tidak hancur, apalagi dengan prestasi mereka memenjarakan banyak koruptor kakap.
Bahkan saking semangatnya saya membela KPK, saya sempat percaya bahwa Ketua KPK waktu itu bebas dari noda. Sampai saya kecewa ternyata foto yang beredar saat dia bersama wanita diranjang ternyata benar adanya.
Disanalah saya kemudian berpikir ulang tentang KPK. Bukan terhadap lembaganya, tetapi "orang-orang" didalamnya, yang jauh dari suci dan masih tergoda dunia.
Dan ketika Pilpres 2019, saat Prabowo menunjuk Novel Baswedan sebagai calon jaksa agungnya, saya mulai bertanya, "Apakah orang didalam KPK sudah masuk politik sekarang ?".
Ditambah atraksi mantan wakil ketua KPK, Bambang Wijoyanto sebagai pengacara BPN di Mahkamah Konstitusi yang seperti "membela yang bayar", habis sudah kepercayaan saya terhadap sebagian orang-orang di dalam KPK.
Saya mulai bertanya-tanya...
Dan - BOOM - meledaklah informasi dari internal KPK, bahwa didalam ada yang namanya kelompok Taliban.
Kelompok ini sangat mendominasi KPK. Mereka membangun kerajaan didalam lembaga superbody ini. Mereka berkuasa atas kasus mana yang harus diangkat dan mana yang dipendam. Ini sangat berbahaya. Senjata KPK bisa diarahkan kepada mereka yang punya pandangan politik berbeda.
Bahayanya KPK lembaga ini sudah tercitra "suci" dan lawannya adalah "penjahat".
Sadar akan bahaya itu, saat pemilihan Panitia seleksi calon pimpinan KPK, Jokowi kemudian memilih orang-orang yang berintegritas untuk membersihkan "radikalisme" di dalam KPK.
Salah satu tugasnya adalah membersihkan KPK dari unsur kepentingan, karena itu tugas Pansel kali ini lebih berat karena mengusik "kerajaan" di dalam KPK.
Benar saja. Sekarang Pansel diserang dari berbagai macam arah. LSM-LSM yang diduga adalah tentakel yang dipelihara KPK, mulai sibuk menghantam Pansel melalui pembentukan opini di media.
"Para Taliban" di dalam KPK memang handal bermain dalam pembentukan opini, penghancuran karakter, sehingga orang yang belum dinyatakan bersalah pun sudah menjadi terdakwa. Saya pernah merasakan itu ketika mencoba membongkar adanya Taliban di dalam KPK.
Dan besok, mereka akan mulai memainkan narasi "Save KPK".
Ini adalah narasi yang dibangun kelompok yang sekarang mendominasi KPK, supaya calon dari Kepolisian dan Kejaksaan bisa terlempar dari bursa. Kenapa ? Karena jika Ketua KPK kelak bukan orang yang pengalaman dalam penyidikan dan penyelidikan, akan bisa diatur-atur oleh kelompok mereka.
Kelompok Taliban di dalam KPK memang ingin menguasai KPK dengan terus memperbanyak penyidik independen. Masalah "penyidik independen" yang masuk tanpa melalui tes yang benar inilah yang kemudian mencuat lewat surat dari internal KPK yang resah dengan situasi di dalam sendiri.
Salah satu narasi Save KPK adalah dengan kembali memunculkan tema "Cicak versus Buaya". Ini maksudnya membenturkan kembali KPK dengan Kepolisian supaya orang percaya bahwa Kepolisian sedang ingin menguasai KPK.
Padahal anggota Pansel dipilih oleh Jokowi. Berarti serangan terhadap keputusan Pansel berarti bagian dari serangan mementahkan agenda Jokowi sendiri untuk membersihkan kelompok radikal di tubuh KPK.
Narasi "Save KPK" ini mirip dengan narasi "Membela Islam" tapi yang mengusung adalah kelompok radikal. Jadi hati-hati dengan pelintiran isu yang malah bisa menguntungkan Taliban di dalam KPK.
Saya setuju "Save KPK".
Tapi yang perlu diselamatkan adalah KPK kembali sebagai lembaga independen tanpa ada kepentingan politik pasca Pilpres didalamnya..
Seruput dulu kopinya, kawan.. ☕☕☕
Denny Siregar
SURAT KEPADA PRESIDEN
|| Minoritas Kecewa Berat...
Pak Jokowi...
Sejak Pilpres 2014 lalu, kami kaum minoritas adalah pendukung setia anda. Benar, suara kami mungkin cuma sekutil, namun kami adalah penentu. Kami adalah "Swing Voter", kepada siapa kami berayun maka ia-lah yg akan jadi pemenang.
Melihat selisih suara pada Pilpres yang lalu, dapat kami pastikan bahwa penentu kemenangan anda adalah kami: SUARA MINORITAS. Tanpa suara minoritas yg hampir 100% bulat, anda tidak akan duduk menjadi Presiden, baik pada periode yg lalu maupun sekarang.
Ketahuilah Pak Jokowi...
Satu-satunya alasan mengapa kami tidak memilih Prabowo, rival anda, adalah karena ia dikelilingi kaum, tokoh dan ormas radikalis yg menurut kami berpotensi akan mengancam keberadaan NKRI dan kebebasan kami dalam beribadah.
Lalu, apa yg kami dapat wahai pak Jokowi? Mana balas budimu kepada kami? Hampir setiap hari kami "disuguhi" tontonan dan berita yg membuat hati kami nyeri : gereja ditutup paksa, dilarang, didemo, dirusak, dibakar, disegel dengan dalih ketiadaan ijin. Padahal berpuluh ribu masjid di seluruh Indonesia juga berdiri tanpa IMB/ijin semestinya. Dan ironisnya, gereja kami yg sudah lengkap ijin-nya tetap saja dihancurkan, dengan bom!
Pak Jokowi...
Kami tidak pernah meminta banyak. Walau negeri ini bukan negara Islam, kami tak pernah cemburu melihat Islam selalu diistimewakan dalam berbagai hal.
Kami tak pernah menuntut didirikan Christian Center sebagaimana Islamic Center yg berdiri dimana-mana. Kami tak pernah menuntut harus ada Sekolah-sekolah Kristen Negeri di pelosok tanah air. Kami juga tak menuntut adanya Universitas/Institut Kristen Negeri, walau di daerah mayoritas Kristen sekalipun. Kami tak menuntut adanya "Gereja Negara" sbgmana Masjid Istiqlal. Dan kami tak pernah menuntut negara ikut campur membantu agar kami dapat beribadah/berziarah ke Israel, ke tanah suci kami, dst.
Permintaan kami cuma satu...
Biarkanlah kami bebas beribadah sebagaimana yg sudah dijamin oleh Pancasila dan UUD 1945: Jangan persulit kami beribadah. Jangan halangi kami mendirikan rumah ibadah dengan berbagai dalih diskriminatif dan ketidakadilan. Cabut SKB 2 Menteri yg pernah anda janjikan pada tahun 2014 lalu.
Begitu hebatnya negeri ini, dimana setiap orang jauh lebih mudah dan jauh lebih bebas mendirikan lapak judi, lapak pelacuran, lapak narkoba dll dibandingkan mendirikan gereja yg 100% utk kebaikan dan kemulian Tuhan.
Berlebihan-kah permintaan di atas, wahai Pak Jokowi, Presiden kami?
Ttd.
Luc Martin Sitepu
FORUM SOSIAL POLITIK