Latest News

Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Wednesday, 13 February 2019

Kajian Filsafat Perlu Dipertahankan untuk Tangkal Hoaks


FENOMENA maraknya berita dan kabar bohong atau hoaks dewasa ini menjadi konsumsi sehari-hari bangsa Indonesia. Bahkan, masyarakat sangat mudah terpengaruh oleh kabar yang belum tentu kebenarannya itu. Hal ini dapat terjadi akibat minimnya peminat ilmu filsafat.
Demikian diingatkan Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof Dr Arskal Salim.
Arskal mengutarakan salah satu alasan masyarakat kurang berpikir kritis sehingga terjebak hoaks akibat minimnya pengetahuan filsafat. Menurut dia, dengan pengetahuan filsafat, otak akan terbiasa menanyakan dan memverifikasi sesuatu, sebelum mengonsumsinya secara instan. Sehingga masyarakat akan dapat membangun tradisi berpikir kritis.
“Inilah pentingnya ilmu filsafat bagi proses-proses sosial politik yang terjadi hari ini. Banyak sekali terjadi hoaks karena mereka tidak memiliki tradisi berpikir kritis. Filsafat itu kan cara untuk berpikir kritis. Berfilsafat itu adalah modalnya bertanya,” ungkap Arskal saat menjadi pembicara dalam acara International Conference of Islamic Philosophy (ICIPh) yang digelar Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (AAFI) dan Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra di Jakarta, Jumat (18/1).
Arskal menuturkan, ketika seseorang tidak menggunakan akalnya untuk berpikir, maka dirinya tidak akan memiliki karakter untuk terus bertanya, dan menggali suatu informasi, sehingga sulit membedakan antara hoaks dan fakta.
“Orang-orang yang tidak mengandalkan akalnya untuk bertanya akan sangat mudah mendapat pengaruh dari hoaks seperti itu dan menerima serta meneruskannya. Itu yang kita sayangkan,” lanjut Arskal.
Alumnus Universitas Indonesia itu menambahkan, untuk meningkatkan berpikir kritis masyarakat khususnya di kalangan mahasiswa, Kemenag mengimbau kepada seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta agar mempertahankan kajian filsafat.
Selain itu, lanjut Arskal, perguruan tinggi yang sudah naik menjadi universitas, harus memiliki program studi agama yang lebih banyak dari program studi umum.
“Filsafat itu kan sebagai pusat tradisi studi Islam yang sudah sangat tua ini tetap harus diperjuangkan agar tetap bisa punya masa depan. Karena itu, kita akan mempertahankan kajian-kajian filsafat di beberapa perguruan tinggi Islam baik negeri ataupun swasta,” cetusnya.
Menurut dia, hal ini merupakan salah satu cara dari Kemenag untuk memelihara keberlangsungan program studi agama, yang memang penting untuk dilestarikan dan dipelihara agar orang-orang atau bangsa Indonesia belajar filsafat dan mengerti filsafat Islam.
Arskal menyebut bahwa Kemenag juga sudah menyiapkan sejumlah beasiswa bagi para pelajar yang tertarik belajar filsafat. Pasalnya, hingga saat ini prodi filsafat masih kalah bersaing dengan prodi-prodi lainnya.
“Kita akan menyiapkan untuk prodi-prodi keislaman, yang kita sebut beasiswa afirmasi. Ini untuk mendorong pelajar kita yang mau belajar filsafat dengan adanya penawaran beasiswa bagi mereka,” tukasnya.
Sementara Ketua STFI Sadra, Dr Kholid Al-Walid, mengatakan, selain mampu menangkal hoaks, berpikir kritis juga merupakan salah satu jalan bagi masyarakat untuk mencegah terpengaruh akan paham-paham radikal dan ektremis.
Bahkan, menurut Kholid, seharusnya cara berpikir kritis sudah diajarkan sejak di level pendidikan dasar dan menengah.
“Masyarakat sejak remaja harusnya sudah terbiasa untuk berpikir kritis, mendalam, rasional, dan substansial dalam menghadapi berbagai persoalan, sehingga tidak terjebak pada problem radikalisme dan ekstremisme,” pungkas Kholid. (RO/OL-1)
Penulis: Syarief Oebaidillah
Source : http://mediaindonesia.com/read/detail/211525-kajian-filsafat-perlu-dipertahankan-untuk-tangkal-hoaks?utm_source=dable

Pembusukan Filsafat di Ruang Publik Harus Dihentikan


PEGIAT filsafat di Indonesia mengecam adanya praktik pembusukan filsafat. Kegiatan itu untuk meluruskan fungsi filsafat ke jalur sebenarnya dan bukan sebagai skenario membungkam Rocky Gerung, pengamat politik yang sempat mengeluarkan pernyataan kontoversial, seperti fiksi dan akal sehat.
Diskusi bertajuk Menolak Pemiskinan dan Pembusukan Filsafat di Ruang Publik, itu digelar di Jakarta, Rabu (13/2).
Acara dihadiri ratusan pegiat filsafat, diantaranya budayawan Goenawan Mohamad, dosen filsafat Universitas Indonesia Donny Gahral Adian, eks peneliti LIPI Mochtar Pabotinggi, dan alumnus STF Driyarkara Jakarta Edisius Riyadi Terre.
Edisius mengemukakan, pembusukan filsafat itu muncul dalam dua bentuk. Pertama, filsafat digunakan untuk menjustifikasi kepentingan politik tertentu, tanpa konfrontasi apakah hal tersebut menyumbang pada telos (tujuan) setiap kebijakan, yaitu kohabitasi yang berkedamaian dan berkeadilan.
"Kedua, filsafat dilacurkan sebagai alat untuk tujuan subsistens semata dan bukan lagi sebagai sebuah art of thinking, sebagaimana menjadi praktik para filsuf Yunani kuno," katanya.
Tidak hanya dalam politik, sambung Mochtar, praktik-praktik serupa juga membahana lewat publikasi media massa dan percakapan di media sosial.
Alih-alih mendorong diskursus publik berdasarkan hikmat kebijaksanaan, sebagian pihak justru membajak ruang publik demi menegaskan demarkasi permusuhan kawan dan lawan.
Pada kesempatan itu, para pegiat filsafat juga memberikan 6 pernyataan sikap terkait kondisi yang belakangan terjadi.
Pertama, menolak praktik sofisme atau permainan tipu daya dengan kelihaian silat lidah dan permainan kata untuk mengecoh lawan bicara, semisal mengajukan dalil-dalil seolah argumentasi padahal sejatinya bukan.
Kedua, menolak kesesatan berpikir dengan mengabaikan kaidah-kaidah berlogika dan penyebarluasannya, sekadar demi pembenaran dan kepentingan diri sendiri. Ketiga, mendorong praktik berpikir logis sekaligus kritis demi menghindari kesesatan berpikir dan dogmatisme politik tidak bernalar.
Keempat, menolak penyebarluasan disinformasi dan pesan-pesan kebencian yang bukan hanya merusak kepercayaan silang, melainkan pula mendorong permusuhan dan menegasikan alasan berdirinya Indonesia.
Kelima, mendorong perwujudan diskursus publik yang hidup dari pergulatan beragam pemikiran kritis, serta mampu menyediakan alternatif solusi atas masalah-masalah bersama. Terakhir, mendorong praktik politik demokratis, termasuk dalam kontestasi elektoral dengan bersandar pada norma-norma etis permusyawaratan rakyat. (OL-8)
Penulis: Golda Eksa
Source : http://mediaindonesia.com/read/detail/216737-pembusukan-filsafat-di-ruang-publik-harus-dihentikan?utm_source=dable

Tags

Recent Post